Boyolali Tetap Jadi Sentra Susu Terbesar Jateng

  • 06 Okt 2026 21:55 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Kabupaten Boyolali hingga kini tetap kokoh memegang predikat sebagai penyangga utama protein hewani dan produsen susu sapi terbesar di Provinsi Jawa Tengah.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Boyolali, volume produksi susu di kota merapi ini mencapai angka fantastis, yakni 38.863.257 kilogram per tahun. Jumlah ini jauh memimpin di tingkat regional, mengungguli Kabupaten Semarang di posisi kedua dengan selisih mencapai hampir 20 juta kilogram per tahun.

Namun, di balik angka produksi yang masif tersebut, sektor peternakan sapi perah di Boyolali sempat mengalami tantangan berat. Plt Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Boyolali, Ahmad Gojali, memaparkan dinamika populasi ternak dalam beberapa tahun terakhir.

"Populasi sapi perah itu terus menurun sejak wabah PMK di tahun 2022 yang membuat populasi kita di angka 60.704 ekor, terus turun hingga 47.476 di tahun 2005. Tapi alhamdulillah, data terakhir di bulan Maret 2026 ini ada sedikit kenaikan populasi menjadi 47.320 ekor, menunjukkan adanya geliat positif dari masyarakat untuk kembali beternak, ujar Ahmad Gojali dalam dialog interaktif di RRI Selasa 6 Oktober 2026 .

Perihal pemasaran produksi susu melimpah dari para peternak Boyolali, Ahmad Gojali memastikan bahwa alur pemasaran dan penyerapan susu segar di Boyolali relatif sangat aman, bahkan tingkat serapannya hampir mencapai seratus persen. Susu dari peternak ditampung melalui berbagai Koperasi Unit Desa (KUD) serta perusahaan pengolah susu terkemuka.

"Untuk alur pemasaran susu segar sendiri sudah tidak ada permasalahan. Serapan susu itu hampir 100 persen. Mulai dari KUD Musuk, Boyolali Kota, KUD Cepogo, KUD Pramono, Boyolali Songo, hingga perusahaan penyerap seperti Java Food, Garuda Food, Diamond, dan Cepogo Cispa,” ujar Ahmad Gojali lebih lanjut .

Meski penyerapan pasar terbilang lancar, para peternak di lapangan tetap dihadapkan pada sejumlah kendala krusial. Erik Darmadi, seorang peternak sapi perah senior di Boyolali, mengungkapkan bahwa tantangan terbesar saat ini berkisar pada lonjakan biaya pakan ternak akibat kemarau panjang serta tingginya harga modal awal.

"Kendala saat ini sangat terdampak di musim kemarau. Rumput susah dicari, sementara harga pakan olahan seperti pelet, serat, dan polar naik tajam hingga dua kali lipat, dari tiga ribu sekarang jadi lima sampai enam ribu rupiah per kilo. Belum lagi harga indukan sapi siap laktasi yang kini melonjak hingga 60 sampai 65 juta rupiah per ekor. Ini tentu sangat memberatkan peternak pemula, “ujar Erik Darmadi dikesempatan yang sama.

Menanggapi berbagai kendala tersebut, Pemerintah Kabupaten Boyolali terus berupaya memberikan intervensi nyata, mulai dari layanan kesehatan gratis melalui lima Puskeswan, program Inseminasi Buatan (IB) gratis, hingga menjajaki kerja sama dengan lembaga keuangan untuk penyediaan kredit berbunga ringan bagi peternak muda.

Dengan berbagai langkah strategis tersebut, diharapkan kejayaan Boyolali sebagai Kota Susu dapat terus terjaga, menyejahterakan peternak, sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional. (Lidia)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....