Jaga Kualitas MBG, SPPG Semanggi 2 Terapkan Sejumlah Teknologi

  • 21 Sep 2026 13:32 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Semanggi 2, Pasar Kliwon, Surakarta, menerapkan sejumlah teknologi dalam proses pengolahan dan pengemasan makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Teknologi tersebut digunakan mulai dari proses pendinginan, penyinaran UV, hingga penyegelan makanan.

Kepala SPPG Semanggi 2, Diansari Kusumadewi, mengatakan salah satu teknologi yang digunakan adalah bilik sinar UV pada jalur konveyor. Setelah makanan diporsikan, makanan melewati bilik tersebut sebelum ompreng ditutup dan disegel.

“Di konveyor kami itu ada bilik sinar UV. Jadi setelah diporsikan, makanan-makanan di sinar UV sebelum ditutup omprengnya. Setelah ditutup itu kami ada mesin sealer,” katanya Senin, 21 September 2026.

Petugas SPPG Semanggi 2 melakukan proses penyegelan ompreng makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) menggunakan mesin sealer. (Foto: RRI/Reza)

Diansari menjelaskan, setelah proses pengisian makanan, ompreng diberi label dan disegel. Sistem penyegelan dibuat menutup seluruh bagian ompreng sehingga dapat meminimalkan risiko kontaminasi dari luar.

Selain teknologi pada proses packaging, SPPG Semanggi 2 memiliki ruang chiller untuk mendinginkan makanan setelah dimasak. Menurut Diansari, ruang tersebut membantu mempercepat proses pendinginan makanan sebelum tahapan berikutnya.

“Setelah dimasak, dimasukkan ke ruang chiller. Jadi ada satu ruangan yang digunakan untuk mendinginkan makanan. Untuk keefektifan juga,” ujarnya.

SPPG Semanggi 2 menyiapkan sekitar 3.055 porsi makanan setiap hari. Proses memasak dimulai sekitar pukul 02.00 sehingga pengelolaan suhu makanan menjadi bagian dari proses produksi.

Sementara itu, Wakil Ketua Satgas MBG Solo, Purwanti, mengatakan penerapan teknologi tersebut mendukung upaya menjaga kualitas makanan dari proses memasak hingga diterima penerima manfaat. Menurutnya, sistem penyegelan juga dilengkapi informasi batas waktu konsumsi makanan.

“Mungkin nanti SPPG yang lain kita dorong untuk hal seperti itu. Karena memang dari sisi keamanan akan terjamin, tidak kemasukan mungkin hal-hal yang tidak diinginkan,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Pendamping Koordinator Regional Jawa Tengah Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) BGN, Riyan Eko Prasetyo, menegaskan makanan dengan kondisi segel rusak tidak boleh diterima atau dikonsumsi. Makanan tersebut harus ditarik kembali untuk memastikan keamanan makanan tetap terjaga hingga ke penerima manfaat.

"Kalau dikira memang makanan itu tidak sesuai dengan di lapangan, maka sekolah boleh menolak dan tidak menerima MBG tersebut. Jadi praktik baik di SPG ini sangat bagus karena mementingkan kualitas makanan supaya terjaga.,” ujarnya. (Reza)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....