14.244 Jiwa Warga Sragen Terdampak Kekeringan dan Krisis Air Bersih
- 16 Sep 2026 22:28 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, SRAGEN — Bencana kekeringan di Kabupaten Sragen terus meluas hingga memasuki pertengahan September. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sragen mencatat dampak krisis air bersih kini telah menyebar ke 19 desa yang tersebar di delapan kecamatan, khususnya di kawasan utara Bengawan Solo.
Kepala Pelaksana Harian BPBD Sragen, Triyono Putro, mengungkapkan kekeringan di Sragen terjadi di 45 dukuh dari 19 desa di 8 kecamatan. Sementara itu jumlah kepala keluarga (KK) terdampak mencapai 4.253 KK di 75 RT. "Kalau jiwanya 14.244 jiwa. Terdiri lansia 1.241 orang, 88 ibu hamil dan lebih dari 2000 anak-anak usia 0-16 tahun," ucapnya Rabu 16 September.
Triyono mengatakan, pihaknya telah menyalurkan sekitar 400 tangki air bersih dari total alokasi anggaran BPBD. Namun, jika diakumulasikan dengan bantuan swadaya masyarakat, komunitas, dan lintas sektor, jumlah air yang didistribusikan ke warga terdampak sudah menembus lebih dari 500 tangki.
"Untuk update terbaru di bulan September ini, dari BPBD sendiri sudah menyalurkan hampir 400 tangki. Tapi kalau dikalkulasi dengan dropping dari paguyuban-paguyuban dan swadaya masyarakat, totalnya sudah lebih dari 500 tangki untuk 18 desa di delapan kecamatan," ujar Triyono.
Dia memastikan seluruh wilayah terdampak telah terlayani bantuan air bersih. Meski demikian, penyaluran dilakukan dengan interval waktu yang bervariasi menyesuaikan jarak tempuh dan armada.
"Semua permohonan sudah terpenuhi, hanya saja interval pengirimannya bervariasi. Ada wilayah yang dua sampai tiga hari sekali baru bisa kita suplai kembali. Setiap hari BPBD mengerahkan armada untuk menyalurkan sekitar 10 tangki air," kata dia.
Mengenai kendala operasional dan anggaran, BPBD Sragen telah mendapat tambahan alokasi dana BBM pada anggaran perubahan guna menyiasati efisiensi dan kenaikan harga bahan bakar non-subsidi. Kendati demikian, potensi kekeringan yang diperkirakan berlangsung hingga Oktober atau November mendatang tetap memicu kekhawatiran terkait ketercukupan anggaran.
"Persoalan utama yang kami khawatirkan adalah durasi kemarau yang cukup panjang, musim hujan diperkirakan masih agak lama. Oleh karena itu, kami sangat mengapresiasi dan berharap gotong royong dari elemen masyarakat serta paguyuban terus berlanjut untuk meringankan beban warga," katanya berharap.
Sebagai gambaran, operasional pengiriman air bersih per tangki di wilayah Sragen secara mandiri berkisar antara Rp350.000 hingga Rp400.000. Harga tersebut bisa mencapai Rp600.000 jika pengambilan pasokan air dilakukan langsung dari kawasan lereng Gunung Lawu karena jarak tempuh yang jauh.
Sebagai informasi, Pemerintah Kabupaten Sragen resmi menetapkan status Siaga Darurat Kekeringan menghadapi musim kemarau tahun ini. Berdasarkan pemetaan dalam SK Siaga Darurat tersebut, BPBD Sragen mencatat ada 9 kecamatan yang masuk dalam zona rawan, mencakup total 34 desa. Wilayah utara Sungai Bengawan Solo masih menjadi fokus perhatian utama karena secara geografis paling rentan mengalami krisis air bersih.
Kecamatan Tangen menjadi wilayah paling luas rawan kekeringan terdapat tujuh desa. Sementara Kecamatan terparah kedua yakni Sumberlawang ada enam desa, disusul Kecamatan Mondokan ada lima desa dan kecamatan Jenar ada tiga desa. MI
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....