Langkah Pencegahan Merapi 5 Tahun Siaga Level III

  • 16 Sep 2026 16:32 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) menegaskan, jalur pendakian Gunung Merapi hingga kini masih ditutup karena status aktivitas gunung masih berada pada level III atau siaga.

Hal itu sebagai dampak aktivitas vulkanik Gunung Merapi belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Sepanjang Jumat, 5 September 2026, gunung api teraktif di Indonesia ini kembali melontarkan puluhan kali guguran lava, sementara status kegunungapiannya tetap bertahan di Level III atau Siaga.

Seperti pada komentar pagi yang disampaikan Ketua Pemberitaan RRI Surakarta Agus Yoga (Rabu (16 September 2026) peristiwa letusan gunung api adalah bagian dari sebuah aktivitas vulkanik yang dikenal sebutan "erupsi". Bahaya letusan gunung api dapat berupa hujan abu lebat, awan panas, lontaran material (pijar), lava, gas racun, gelombang tsunami dan banjir lahar.

Dicontohkan, peristiwa erupsi gunung berapi di Indonesia adalah letusan Merapi tahun 2010. Saat itu, Gunung Merapi di Yogyakarta mulai menunjukkan sebuah gerakan dan aktivitas seismik dan akhirnya menyebabkan sebuah letusan pada 26 Oktober 2010. Akibat dari peristiwa letusan Gunung merapi ini ratusan orang tewas.

“Menyikapi kejadian itu, ada langkah mitigasi bencana letusan gunung api atau langkah pencegahan bencana letusan gunung api atau pengurangan dampak bahaya letusan gunung api. Langkah itu tentu untuk meminimalkan jatuhnya korban jiwa, kerugian harta benda, rusaknya lingkungan, dan terganggunya roda perekonomian masyarakat,” kata Agus Yoga.

Adapun ada beberapa langkah mitigasi bencana gunung berapi seperti,

“Masuk ke dalam rumah atau tempat yang aman. kecuali ada instruksi untuk evakuasi. Tutup semua jendela dan pintu agar abu vulkanik tidak masuk. Jika masih memiliki waktu, amankan kendaraan juga hewan ternak jika ada. Jangan gabaikan instruksi darurat Perhatikan instruksi darurat saat terjadu letusan. Instruksi tentu akan mengarahkan warga terdampak harus dievakuasi ke tempat lain atau yang lebih aman,” berpesan.

Menurutnya, korban letusan biasanya banyak berjatuhan akibat tidak mengindahkan instruksi darurat. Jika sedang berada di tempat terbuka, pergi ke tempat tinggi karena letusan besar diikuti aliran lava, lumpur juga banjir. Walau sudah berada di tempat tinggi, tetap waspada dan lindungi diri Anda dari muntahan bebatuan hingga gas dari erupsi.

Lindungi pernapasan Erupsi biasanya disertai abu vulkanik dan gas beracun, maka perlu mengenakan maskaer atau penutup hidung agar tidak mengganggu pernapasan.

Selain itu, perlu juga mengenakan kacamata pelindung serta baju dan celana panjang. Selain itu, tindakan yang harus dilakukan saat terjadi letusan gunung api yang lain adalah: Patuhi perintah evaluasi dari pihak berwenang, tinggalkan tempat yang tidak aman, segera menuju ke titik kumpul, jangan bandel untuk tidak mengikuti petunjuk yang justru dapat merugikan diri sendiri.

Hindari arah angin yang searah dengan abu vulkanik agar tidak terkena hujan abu. Hindari pula daerah lereng gunung, sungai, aliran lahar, dan lembah yang berisiko terkena material dari gunung berapi.

Pakailah masker, pakaian tertutup, topi, kacamata pelindung. Jika kondisi mendesak tak ada masker, pakai kain (basah) untuk menutupi mulut dan hidung agar terhindar dari menghirup debu vulkanik.

Hindari menggunakan lensa kontak. Tetap berlindung di tempat aman, jangan beraktivitas di luar dalam waktu lama. Tetap dan pantau keluarga untuk tetap bersama saat evakuasi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....