Densus 88 Siapkan 15 Program Lanjutan untuk Eks Anggota JI

  • 30 Agt 2026 14:46 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta – Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri menyiapkan 15 program lanjutan untuk memperkuat proses reintegrasi sosial dan transformasi ideologi mantan anggota Jamaah Islamiyah (JI). Program tersebut disampaikan dalam Silaturahmi Akbar Garda Satya NKRI di Edutorium Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Minggu, 30 Agustus 2026.

Kegiatan tersebut dihadiri sekitar 6.500 eks anggota dan simpatisan JI dari Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Timur. Silaturahmi digelar bertepatan dengan momentum peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia.

Kepala Densus 88 Antiteror Polri, Irjen Pol Sentot Prasetyo, mengatakan program pembinaan merupakan bagian dari road map sistematis selama lima tahun setelah deklarasi pembubaran JI pada 30 Juni 2024.

“Program ini dirancang berkelanjutan untuk memastikan seluruh eks Jemaah Islamiyah mendapatkan bimbingan agar dapat diterima kembali oleh masyarakat luas sekaligus meneguhkan komitmen menjaga keutuhan NKRI,” ujar Sentot.

Densus 88 mencatat seluruh struktur keanggotaan JI di 28 provinsi telah melaksanakan deklarasi pembubaran diri. Sebanyak 7.942 eks anggota dan simpatisan disebut telah mengikuti berbagai program pembinaan yang dilaksanakan di sejumlah wilayah.

Selain pembinaan, Densus 88 juga melakukan asesmen transformasi ideologi terhadap 1.611 responden di 11 wilayah strategis. Asesmen tersebut dilakukan untuk memetakan kondisi para mantan anggota JI setelah organisasi tersebut membubarkan diri.

Densus 88 juga mendorong kemandirian ekonomi melalui kolaborasi dengan kementerian, lembaga, dan berbagai pemangku kepentingan. Sebanyak 19 jenis pelatihan keterampilan telah disiapkan, mulai dari teknisi AC, barista, content creator, digital marketing, juru sembelih halal, kewirausahaan agribisnis, pertanian terpadu, hingga pendampingan UMKM.

Sementara itu, 15 program lanjutan disiapkan untuk memperkuat transformasi pemikiran dan moderasi beragama. Program tersebut antara lain dialog internal transformasi ideologi dan daurah transformasi di lebih dari 30 pondok pesantren.

Densus 88 juga akan mendorong pendampingan pesantren bersama Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Selain itu, terdapat program kuliah diniyah mingguan serta pendampingan bagi istri dan anak eks anggota JI.

Pada ruang digital, Densus 88 menyiapkan penguatan kontra-narasi melalui Digital Counter-Narrative Lab, penerbitan buku At-Tatharuff, buletin Jumat, hingga podcast pembanding.

Menurut Sentot, keberlanjutan program tersebut membutuhkan sinergi dengan pemerintah daerah, kementerian, lembaga, dan organisasi keagamaan. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperkuat proses reintegrasi sekaligus mencegah munculnya kembali afiliasi kelompok ekstremis.

“Melalui ruang dialog terbuka ini, kita menyaksikan kehadiran nyata negara. Kami berharap sinergi ini melahirkan langkah konkret dalam menghadapi dinamika ancaman kekerasan berbasis ekstremisme, sekaligus memastikan tidak ada ruang bagi bangkitnya afiliasi kelompok ekstremis baru di Indonesia,” ujar Sentot.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....