Bentengi Pelajar dari Radikalisme, Densus 88 Gelar Roadshow 'Ratakan Bali Pro Max'
- 18 Apr 2026 17:27 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Densus 88 gelar roadshow kebangsaan di 70 sekolah SLTA Bali selama 13–23 April 2026.
- Program “Ratakan Bali Pro Max” fokus memperkuat ketahanan ideologi dan cegah radikalisme pelajar.
- Materi mencakup Pancasila, toleransi, bahaya ekstremisme, hingga kaitan bullying dengan radikalisme.
RRI.CO.ID, Jakarta - Polri memperkuat ketahanan ideologi generasi muda melalui langkah pencegahan radikalisme di lingkungan pendidikan Bali. Upaya ini merespons meningkatnya ancaman intoleransi, radikalisme, hingga kekerasan digital yang menyasar kalangan pelajar secara masif.
Direktorat Pencegahan Densus 88 Antiteror Polri menginisiasi program bertajuk 'Ratakan Bali Pro Max' sebagai strategi edukasi kebangsaan. Program tersebut diwujudkan melalui roadshow sosialisasi yang menyasar langsung puluhan sekolah menengah atas di seluruh wilayah Bali.
Kombes Pol Moh Dofir menegaskan bahwa lingkungan pendidikan memiliki peran krusial dalam membentuk karakter generasi muda. Sekolah dinilai menjadi garda terdepan dalam membangun sikap toleransi, integritas, serta nasionalisme di kalangan pelajar.
“Sekolah menjadi garda terdepan dalam membangun karakter pelajar yang berintegritas, toleran, dan berjiwa nasionalis. Kami ingin memperkuat daya tangkal pelajar terhadap paham yang bertentangan dengan nilai Pancasila,” ujarnya dikutip dari keterangan tertulis, Jakarta,
Kegiatan ini menargetkan sebanyak 70 sekolah tingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Atas atau SLTA di Provinsi Bali. Pelaksanaan berlangsung selama sepuluh hari, mulai 13 hingga 23 April 2026 dengan pendekatan edukatif yang interaktif.
Pelaksanaan kegiatan melibatkan kolaborasi lintas sektor dengan berbagai instansi terkait guna memperluas jangkauan edukasi kebangsaan. Densus 88 menggandeng Polda Bali, Kementerian Agama, serta Dinas Pendidikan Provinsi Bali dalam pelaksanaan program tersebut.
Sinergi lintas sektor ini dilakukan untuk memastikan penyampaian materi berjalan efektif dan mampu diterima dengan baik oleh pelajar. Pendekatan tersebut diharapkan mampu memperkuat pemahaman nilai kebangsaan sekaligus meningkatkan daya tangkal terhadap paham menyimpang.
Selama kegiatan berlangsung, pelajar diberikan pemahaman komprehensif mengenai nilai-nilai Pancasila serta pentingnya menjaga toleransi dalam keberagaman. Materi juga membahas secara mendalam bahaya ekstremisme hingga terorisme yang kerap muncul dari lingkungan sekitar.
Materi edukasi disusun secara kontekstual agar relevan dengan kondisi terkini yang dihadapi pelajar di era digital. Pendekatan ini diharapkan mampu membangun ketahanan mental agar pelajar tidak mudah terpengaruh doktrin yang memecah persatuan.
Program ini juga menyoroti fenomena perundungan atau bullying yang semakin kompleks di kalangan remaja saat ini. Perilaku tersebut dinilai memiliki keterkaitan dengan pembentukan pola pikir radikal apabila tidak ditangani sejak dini.
“Intoleransi dan bullying dapat menjadi pintu masuk menuju radikalisme jika tidak ditangani sejak dini. Edukasi dan deteksi dini menjadi kunci utama dalam upaya pencegahan,” ucapnya.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, pelajar didorong untuk berperan aktif sebagai agen perubahan di lingkungan masing-masing. Mereka diajak menanamkan empati sosial, menjaga persatuan, serta mengasah kemampuan berpikir kritis dalam menghadapi arus informasi.
Selain itu, pelajar juga dibekali kemampuan menyaring informasi secara bijak agar tidak terpengaruh konten negatif di ruang digital. Langkah ini penting untuk memperkuat ketahanan ideologi sekaligus mencegah penyebaran paham yang memecah belah.
Polri berharap generasi muda Indonesia dapat tumbuh menjadi pribadi tangguh yang berkarakter kuat dan berintegritas tinggi. Harapan tersebut menegaskan pentingnya membangun kecintaan terhadap bangsa yang tidak mudah tergoyahkan oleh berbagai ancaman ideologi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....