Lahan Pertanian Solo Tinggal 14 Hektare, Kota Cerdas Pangan Jadi Solusi

  • 27 Agt 2026 12:32 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID ,Surakarta - Pemerintah dan berbagai elemen masyarakat di Kota Surakarta terus memperkuat upaya menjaga ketahanan pangan di tengah keterbatasan lahan pertanian. Konsep Kota Cerdas Pangan menjadi salah satu langkah yang didorong melalui pengembangan produksi pangan perkotaan, perluasan akses pangan sehat, hingga penguatan ekosistem kebijakan.

Direktur Program Gita Pertiwi, Titik Handayani, mengatakan terdapat tiga strategi utama dalam mewujudkan Solo sebagai Kota Cerdas Pangan. Yakni, produksi pangan sehat berkelanjutan, pasar pangan terbuka dan inklusif, serta penguatan ekosistem hukum.

Tantangan utama Solo adalah keterbatasan lahan. Dalam dokumen sumber disebutkan, lahan pertanian di Kota Solo tinggal sekitar 14 hektare, sementara lahan urban farming sekitar 2 hektare. Karena itu, pengembangan pertanian perkotaan lebih diarahkan pada peningkatan produktivitas melalui teknologi budidaya di lahan sempit, seperti hidroponik dan vertikultur.

“Kalau bicara urban farming bukan dilihat dari luasannya, tetapi dari produktivitasnya. Oleh karena itu teknik-teknik budidaya, teknologi budidaya di lahan sempit itu yang menjadi salah satu solusi.” ujar Titik dalam dialog interaktif di RRI Kamis 27 Agustus 2027.

Melalui metode tersebut, masyarakat dapat memanfaatkan ruang-ruang terbatas untuk menghasilkan pangan. Budidaya secara vertikal, pemanfaatan tembok sebagai media tanam, hingga penggunaan wadah dan bahan sederhana menjadi alternatif pengembangan pertanian di kawasan perkotaan.

Upaya ketahanan pangan juga dikaitkan dengan persoalan lingkungan. Gita Pertiwi mendorong pemanfaatan sampah organik dari tingkat rumah tangga dan lingkungan sebagai kompos maupun bahan untuk budidaya maggot. Hasilnya dapat kembali dimanfaatkan untuk mendukung sektor perikanan dan peternakan, sehingga sampah organik tidak hanya menjadi persoalan, tetapi juga sumber daya bagi produksi pangan perkotaan.

Selain meningkatkan produksi, akses masyarakat terhadap pangan sehat juga menjadi perhatian. Salah satu upaya yang dilakukan adalah memperpendek rantai distribusi dengan mempertemukan langsung kelompok tani di Solo dan wilayah sekitar, seperti Sukoharjo dan Boyolali, dengan kelompok konsumen, terutama masyarakat rentan.

Dengan rantai distribusi yang lebih pendek, pangan diharapkan dapat diterima konsumen dengan harga yang lebih terjangkau sekaligus tetap memiliki kualitas yang baik.

Upaya lain dilakukan melalui penyelamatan pangan berlebih yang masih layak konsumsi dari toko, ritel, maupun pasar untuk kemudian disalurkan kepada kelompok masyarakat yang membutuhkan. Program ini juga dibarengi edukasi agar masyarakat lebih bijak dalam mengonsumsi pangan dan mengurangi pemborosan makanan.

Sementara dari sisi kebijakan, Kota Surakarta telah memiliki Peta Jalan Kota Cerdas Pangan tahun 2022 hingga 2032. Untuk menjalankannya, dibentuk Komite Cerdas Pangan melalui SK Wali Kota dengan melibatkan unsur pemerintah, komunitas, perguruan tinggi, sektor swasta, dan media.

Kolaborasi berbagai pihak tersebut diharapkan dapat memperkuat ketahanan pangan Solo, mulai dari meningkatkan produksi di tengah keterbatasan lahan, memastikan akses pangan sehat bagi masyarakat, hingga membangun sistem pangan yang lebih berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....