Maksimalkan Pekarangan, Tani Merdeka Dorong Ketahanan Pangan Warga Karanganyar
- 24 Agt 2026 21:34 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Karanganyar - Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Tani Merdeka Jawa Tengah mendorong penguatan ketahanan pangan berbasis keluarga melalui optimalisasi lahan pekarangan rumah dan penerapan sistem pertanian terpadu (integrated farming). Skema ini dinilai strategis dalam memperkuat ekonomi rumah tangga sekaligus mendukung program ketahanan pangan nasional secara berkelanjutan.
Ketua DPW Tani Merdeka Jawa Tengah, Wawan Pramono, mengapresiasi berbagai inisiatif pemberdayaan masyarakat yang memanfaatkan pekarangan rumah, seperti yang dilakukan Perempuan Tani Sejahtera Indonesia (PTSI) di Gondangrejo, Karanganyar. Kendati demikian, ia menekankan agar setiap program bantuan bibit tidak sekadar berhenti pada penyerahan seremonial semata.
"Kita sangat mendukung dan men-support karena ini sinergitas yang lebih luas. Tapi tidak berhenti hanya penyerahan bibit saja. Selama ini kita melihat dan memantau kebanyakan program itu hanya diserahkan habis itu ditinggal. Padahal tujuannya untuk memaksimalkan ketahanan pangan keluarga," kata Ketua DPW Tani Merdeka Jawa Tengah, Wawan Pramono, Senin 24 Agustus 2026.
Wawan, yang juga menjabat sebagai Anggota DPRD Kabupaten Karanganyar dari Fraksi Partai Gerindra, menjelaskan bahwa potonsi lahan pemukiman di kawasan Gondangrejo hingga wilayah perkotaan masih sangat besar untuk digarap. Menurutnya, keterbatasan lahan tidak boleh menjadi penghalang bagi warga untuk bercocok tanam demi memenuhi kebutuhan dapur sehari-hari.
"Ibu-ibu rumah tangga ini bisa memanfaatkan lahan pekarangan yang masih luas. Apalagi di Gondangrejo ini kan masih luas-luas. Bahkan di perkotaan atau perumahan pun bisa kita maksimalkan. Misalkan ada teras rumah itu bisa ditanami cabai atau yang lain dengan media botol bekas atau polybag," kata Wawan.
Lebih lanjut, Wawan mendorong masyarakat untuk menerapkan konsep integrated farming secara mandiri di area pekarangan belakang rumah yang berukuran 20 hingga 50 meter persegi. Konsep intergrasi ini memadukan budidaya tanaman dengan peternakan skala kecil, seperti memelihara 10 hingga 20 ekor ayam unggas.
"Kita memberi contoh dan edukasi tentang demplot mandiri. Kalau ada halaman belakang 20 atau 50 meter bisa untuk integrated farming, bisa untuk memelihara ayam. Tidak harus banyak, 10 atau 20 ekor bisa, minimal setiap hari menghasilkan telur untuk konsumsi keluarga," ujarnya.
Mengenai hasil panen maupun produksi ternak warga, Wawan menyebut, sisa produksi yang tidak dikonsumsi dapat dijual untuk menambah penghasilan keluarga. Pemasaran hasil tani skala mikro tersebut kini makin terjamin seiring hadirnya wadah penampung resmi di tingkat desa.
"Sisanya bisa dikumpulkan nanti bisa dijual. Sekarang kan Pak Prabowo membangun Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) yang bisa menampung semua hasil peternakan atau pertanian masyarakat meskipun dalam skala kecil," kata Wawan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....