Dukung Swasembada Pangan, BMKG Edukasi Petani di Sragen lewat Sekolah Lapang Iklim

  • 04 Agt 2026 11:07 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, SRAGEN — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Jawa Tengah terus memperkuat pendampingan kepada para petani melalui program Sekolah Lapang Iklim (SLI). Sosialisasi Iklim, cuaca dan elnino ini berlangsung di Alua Dinas Pertanian Kabupaten Sragen, Senin 3 Agustus.

Langkah ini diambil guna memberikan pemahaman mendalam terkait pemetaan musim tanam agar sektor pertanian terhindar dari ancaman puso atau gagal panen, sekaligus mendukung program swasembada pangan nasional.

Sebagai salah satu daerah penyangga dan lumbung pangan nasional, Kabupaten Sragen menjadi wilayah strategis yang sangat bergantung pada kecermatan pemetaan cuaca dan kondisi iklim dalam setiap siklus tanam.

Kepala Stasiun BMKG Jawa Tengah, Guruh Ciptanto, menjelaskan bahwa Sekolah Lapang Iklim yang diberikan kepada petani menitikberatkan pada pemahaman dasar mengenai dinamika iklim, baik dalam kondisi curah hujan tinggi maupun saat memasuki musim kemarau.

"Melalui SLI ini, kami memberikan pengenalan dan pemahaman dasar kepada petani mengenai kondisi iklim. Jika kondisi iklim seperti tahun 2024 yang tinggi curah hujan atau saat memasuki kemarau seperti sekarang, petani tahu apa yang harus dilakukan dan bagaimana mengantisipasinya," ujar Guruh.

Selain itu, BMKG juga mendorong para petani untuk memanfaatkan perkembangan teknologi informasi melalui aplikasi Info BMKG. Melalui aplikasi tersebut, petani dapat mengakses informasi cuaca hingga tingkat desa dan kelurahan secara mandiri.

Hal ini penting untuk memandu aktivitas harian di lapangan, seperti penentuan waktu pemupukan, pengeringan hasil panen, hingga pelaksanaan panen raya.

Lebih dari sekadar cuaca harian, Guruh menekankan pentingnya pemahaman iklim jangka panjang—mulai dari skala dasarian (10 hari), bulanan, hingga musiman—sebagai dasar perencanaan strategis pertanian.

"Dengan mengetahui kondisi iklim jangka panjang, perencanaan petani akan jauh lebih mendalam. Tidak hanya menentukan kapan waktu menanam, tetapi juga memperhitungkan ketersediaan air irigasi hingga pemilihan varietas bibit yang tepat, apakah yang tahan tergenang air atau tahan kekeringan," katanya menjelaskan.

Melalui edukasi iklim yang berkelanjutan ini, diharapkan para petani di Sragen dan wilayah Jawa Tengah lainnya tidak lagi hanya berspekulasi atau menerka-nerka kondisi cuaca, melainkan dapat mengambil keputusan berbasis data demi meminimalkan risiko kerugian serta meningkatkan produktivitas panen. MI

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....