Yayasan DQS Bangun Pesantren Standar Al-Azhar di Kabupaten Karanganyar

  • 27 Agt 2026 12:15 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta – Yayasan Daarul Qur'an Surakarta (DQS) berkolaborasi dengan Yayasan Alif Tsalatsah Istiqaamah secara resmi mendirikan Pesantren DQS Al-Azhar Internasional.

Institusi setingkat Madrasah Aliyah (MA) tersebut dibangun di atas lahan seluas 7.000 meter persegi yang berlokasi di Desa Pablengan, Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar.

Ketua Yayasan DQS, Adib Adjiputra, menjelaskan pesantren ini dirancang menerapkan standar pendidikan ganda demi mencetak santri dengan fondasi akademik yang tangguh.

Kurikulum keagamaan akan berafiliasi langsung dengan Al-Azhar Kairo, Mesir, sementara program formalnya sepenuhnya mengadopsi sistem unggulan dari Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Insan Cendekia Pekalongan.

"Bulan September nanti, ada tim dari Kedutaan Besar Mesir yang datang untuk mengurus legalitas kerja sama. Nantinya, MoU akan diteken bersama langsung dengan Al-Azhar Kairo, sehingga materi kurikulum pesantren mengadopsi kurikulum dari sana," ujar Adib dalam jumpa persnya, Rabu, 26 Agustus 2026.

Guna memperlancar tahapan operasional, perizinan madrasah ini telah resmi dikantongi dari Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama.

Proses pembangunan fisik asrama dan kelas yang telah diawali dengan peletakan batu pertama pada Juli lalu ditargetkan rampung pada bulan April 2027 mendatang agar siap digunakan.

Penjaringan siswa baru akan dibagi ke dalam tiga gelombang pendaftaran yang dimulai sejak tanggal 30 Oktober 2026 hingga bulan Juni 2027.

Pihak yayasan menargetkan kuota penerimaan sebanyak 100 orang santri pada angkatan pertama, dengan ketersediaan program beasiswa khusus bagi calon pendaftar berprestasi dari kalangan keluarga kurang mampu.

Menambahkan perspektif kebangsaan, Ketua Dewan Pembina Yayasan Alif Tsalatsah Istiqaamah Solo, Isnanto Basuki, memaparkan konsep pondok ini sejatinya telah digodok sejak tiga tahun terakhir.

Gagasan mulia tersebut murni lahir dari rasa keprihatinan mendalam terhadap fenomena krisis integritas kepemimpinan yang kerap merugikan negara.

"Ide kami berawal dari keprihatinan melihat kondisi di negeri ini, di mana sering kali ada kecenderungan oknum pimpinan menyalahgunakan jabatan. Kami ingin berupaya membenahi hal tersebut melalui jalur pendidikan dan agama," kata Isnanto. (Dania)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....