Gita Pertiwi Dorong Pengelolaan Sampah Jadi Bagian Sistem Pangan Kota
- 21 Agt 2026 19:42 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta – Pengelolaan sampah organik dinilai tidak dapat dipisahkan dari upaya membangun sistem pangan perkotaan yang berkelanjutan. Pengurangan pemborosan pangan hingga pemanfaatan sisa makanan menjadi sumber daya produktif menjadi bagian dari konsep ekonomi sirkular yang didorong melalui Program Kota Cerdas Pangan.
Direktur Gita Pertiwi, Titik Eka Sasanti, mengatakan sistem pangan kota tidak hanya berkaitan dengan bagaimana masyarakat mendapatkan makanan. Sistem tersebut juga mencakup proses produksi, distribusi, konsumsi, hingga pengelolaan sisa pangan.
Menurut Titik, Kota Surakarta perlu membangun sistem pangan yang tangguh karena pasokan pangan perkotaan masih sangat bergantung pada daerah sekitar. Perubahan iklim dapat memengaruhi produktivitas pertanian di wilayah pemasok sehingga berpotensi berdampak terhadap ketersediaan pangan di kota.
“Solo sendiri, misalnya kota itu kan suplai pangannya sangat tergantung di daerah sekitarnya. Perubahan iklim sangat berpengaruh terhadap produktivitas,” kata Titik dalam forum Solo Kota Cerdas Pangan di Zest Hotel, Kamis, 20 Agustus 2026.
Selain tangguh, sistem pangan perkotaan juga harus inklusif. Masyarakat perkotaan yang umumnya bukan produsen pangan perlu didorong untuk lebih bertanggung jawab dalam konsumsi dan mengurangi makanan yang terbuang.
Titik menilai pengelolaan sampah organik juga membutuhkan pemetaan pelaku yang tepat. Menurutnya, kelompok masyarakat yang sehari-hari bekerja atau beraktivitas di sektor persampahan justru memiliki potensi besar untuk dikembangkan dalam pengolahan kompos maupun budi daya maggot.
“Kalau bicara kompos, bicara maggot menurut kami akan lebih mudah kalau melibatkan pemulung, pekerja sampah karena kan mereka sehari-hari kehidupannya sudah dengan sampah,” ujarnya.
Ia mengatakan pemerintah dapat berperan dengan meningkatkan kapasitas serta menyediakan sarana dan prasarana bagi kelompok tersebut. Pendekatan ini dinilai lebih efektif dibandingkan memberikan tanggung jawab pengelolaan sampah kepada kelompok yang sebelumnya tidak memiliki pengalaman di bidang tersebut.
Titik menambahkan, Kota Surakarta saat ini belum berada pada kondisi ideal sebagai kota cerdas pangan. Namun, sejumlah prinsip telah mulai dibangun melalui peta jalan dan kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, masyarakat sipil, media, serta dunia usaha.
“Peta jalan itu bagian dari apa yang kami lakukan bersama dengan Pemerintah Kota Solo. Di peta jalan ada Komite Cerdas Pangan, yang tidak hanya dari pemerintah, sudah benar-benar pentahelik,” katanya.
Program Kota Cerdas Pangan diharapkan tidak berhenti setelah masa implementasinya berakhir. Praktik baik yang telah dibangun perlu dilanjutkan dan dikembangkan agar pengelolaan pangan dan sampah organik menjadi bagian dari sistem pembangunan Kota Surakarta secara berkelanjutan. (Ryan Assyidiqi)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....