Dispangtan Solo Dorong Kemandirian Pangan hingga Tingkat Rumah Tangga

  • 21 Agt 2026 19:41 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta – Keterbatasan lahan pertanian menjadi salah satu tantangan Kota Surakarta dalam membangun kemandirian pangan. Pemerintah Kota Surakarta kini mendorong pemenuhan pangan mulai dari tingkat rumah tangga melalui urban farming dan pemanfaatan lahan terbatas.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Surakarta, Wahyu Kristina, mengatakan kondisi Surakarta sebagai wilayah perkotaan membuat ketahanan pangan tidak dapat sepenuhnya mengandalkan produksi dari dalam kota. Terlebih, luas lahan pertanian yang tersisa terus terbatas seiring perkembangan kawasan perkotaan.

Menurut Wahyu, upaya yang realistis dilakukan adalah membangun kemandirian pangan dalam skala keluarga. Masyarakat dapat memanfaatkan ruang yang tersedia di rumah untuk menanam tanaman hortikultura maupun melakukan budi daya ikan.

“Yang diupayakan adalah bagaimana mandiri pangan skala perumahan atau skala keluarga,” ujar Wahyu, dalam forum Solo Kota Cerdas Pangan di Zest Hotel, Kamis, 20 Agustus 2026.

Ia menyebut sejumlah kebutuhan pangan sederhana dapat dipenuhi dengan memanfaatkan barang yang sudah tersedia di rumah. Misalnya, wadah bekas dapat digunakan untuk budi daya ikan lele maupun menanam cabai, terong, dan tomat.

Wahyu menilai langkah tersebut tidak serta-merta membuat Solo mandiri secara keseluruhan. Namun, pemenuhan sebagian kebutuhan pangan dari rumah tangga dapat membantu memperkuat ketahanan pangan masyarakat ketika pasokan dari luar kota menghadapi gangguan.

Di sisi lain, Pemerintah Kota Surakarta juga menyiapkan cadangan pangan pemerintah untuk menghadapi kondisi darurat. Cadangan tersebut dapat digunakan ketika terjadi bencana atau terdapat masyarakat yang belum terjangkau bantuan dari pemerintah pusat maupun sumber lainnya.

“18 ton itu amanat undang-undang. Setiap tahun kita selalu ada cadangan pangan. Cadangan pangan itu kita keluarkan jika ada memang misalnya bencana,” jelasnya.

Wahyu menegaskan, sistem pangan yang tangguh tidak hanya berbicara mengenai ketersediaan bahan makanan. Pengelolaan pangan dari produksi, pengolahan hingga pemanfaatan sisa pangan juga menjadi bagian dari upaya membangun Kota Surakarta sebagai kota cerdas pangan.

Upaya tersebut menjadi bagian dari Program Kota Cerdas Pangan yang dikembangkan bersama Pemerintah Kota Surakarta dan Yayasan Gita Pertiwi. Program ini mendorong kolaborasi berbagai pihak untuk membangun sistem pangan kota yang sehat, inklusif, tangguh, dan berkelanjutan. (Ryan Assyidiqi)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....