Kelompok Tani Sukoharjo Dilatih Membuat Premiks Pangan dan Pakan
- 21 Agt 2026 13:13 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta - Glukomanan porang tak hanya berhenti sebagai bahan baku, tetapi mulai dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai tambah. Kelompok Tani Sahabat Petani Porang Sukoharjo (SPPS) di Desa Kamal, Kecamatan Bulu, Sukoharjo, mendapat pelatihan pembuatan premiks pangan dan pakan berbahan dasar glukomanan porang dari tim pengabdi Universitas Veteran Bangun Nusantara (Univet Bantara).
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mendorong kelompok tani agar mampu mengembangkan lebih banyak produk turunan porang sekaligus membuka peluang pasar baru. Sosialisasi pertama dilaksanakan pada 30 Juli 2026 di Bukit Porang SPPS dengan melibatkan pengurus kelompok tani dan masyarakat sekitar.
Tim pengabdi Univet Bantara diketuai Bovi Wira Harsanto, bersama Muhammad Fathul Anwar dan Muhammad Husein serta dua mahasiswa, Banu Aji Wicaksono dan Jeni Eka Rahmawati. Dalam kegiatan tersebut, peserta dikenalkan dengan konsep premiks, yakni penggabungan sejumlah bahan yang telah ditakar dan diperhitungkan sehingga menghasilkan campuran dengan komposisi yang tepat.

Untuk premiks pangan, bahan yang digunakan antara lain glukomanan porang, tepung tapioka, dan garam. Sementara premiks pakan memanfaatkan glukomanan porang yang dikombinasikan dengan berbagai sumber protein dan karbohidrat. Proses pembuatannya didukung sejumlah peralatan sederhana seperti mixer, ayakan, dan timbangan.
Pelatihan kemudian dilanjutkan pada 19 Agustus 2026 dengan praktik langsung pembuatan premiks pangan dan pakan. Peserta mengikuti tahapan mulai dari penimbangan bahan, pencampuran, pengayakan hingga pengemasan untuk premiks pangan, sedangkan premiks pakan diawali dengan menghitung kebutuhan pakan sesuai target sebelum bahan ditimbang, dicampur, dan dikemas.
Selama kurang lebih dua jam, suasana pelatihan berlangsung interaktif. Tim pengabdi dan anggota SPPS berdiskusi pada setiap tahapan untuk memastikan peserta memahami proses pembuatan sekaligus peluang pemanfaatannya.
Menariknya, premiks pangan yang dihasilkan langsung diuji coba sebagai bahan pengganti pengenyal mi. Hasil olahan tersebut kemudian dihidangkan dan dievaluasi bersama untuk melihat potensi glukomanan porang sebagai bahan tambahan yang dapat memberikan tekstur mi lebih kokoh.
Perwakilan SPPS, Erwin Lasiyanto, melihat pelatihan tersebut sebagai peluang untuk mengembangkan usaha kelompok, terutama di bidang pangan dan peternakan. “Produk premiks pakan dapat membantu kami mengembangkan usaha di bidang peternakan seperti ayam petelur. Premiks pangan juga menjadi peluang untuk menembus pasar mi ayam dengan target suplai dalam jumlah besar,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Tim Pengabdi Univet Bantara, Bovi Wira Harsanto, mengatakan pengembangan premiks menjadi salah satu inovasi untuk memperluas pemanfaatan glukomanan porang. “Pembuatan premiks pangan dan pakan menjadi salah satu inovasi yang kami terapkan agar serapan glukomanan di pasaran bisa meningkat, sehingga harapannya dapat meningkatkan pendapatan kelompok tani porang,” katanya.
Ke depan, premiks pangan diharapkan dapat dikembangkan sebagai salah satu alternatif pengenyal mi berbahan alami. Sementara premiks pakan berbasis glukomanan diharapkan dapat mendukung pemenuhan kebutuhan karbohidrat dalam pakan, termasuk untuk ternak ayam.
Pelatihan ini tidak berhenti pada tahap pengenalan dan praktik. Tim pengabdi Univet Bantara berencana melanjutkan kegiatan dengan memperbesar skala produksi premiks pangan dan pakan sehingga produk yang dihasilkan semakin siap untuk dikembangkan dan dipasarkan.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat yang didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM), Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia melalui skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat, ruang lingkup Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat Tahun Pendanaan 2026.
Program pengabdian di SPPS direncanakan berlangsung selama lima bulan, mulai Juli hingga November 2026. Melalui kegiatan tersebut, glukomanan porang diharapkan tidak hanya menjadi komoditas, tetapi berkembang menjadi produk inovatif yang mampu membuka peluang usaha dan meningkatkan nilai ekonomi bagi kelompok tani di Sukoharjo. Bovi Wira Harsanto
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....