Mendag RI Dorong Univet Bantara, UMKM Cetak Eksportir Muda dari Lokal untuk Global
- 20 Agt 2026 15:51 WIB
- Surakarta
RI.CO.ID, Sukoharo - Menteri Perdagangan Republik Indonesia Dr. Budi Santoso, M.Si. mendorong perguruan tinggi, mahasiswa, UMKM, dan pelaku usaha lokal mengambil peran lebih besar dalam memperkuat pasar domestik sekaligus memperluas ekspor. Hal itu disampaikan saat memberikan kuliah umum di Universitas Veteran Bangun Nusantara (Univet Bantara) Sukoharjo, Rabu (20/8/2026).
Dalam kuliah umum tersebut, Menteri Perdagangan memaparkan tiga fokus utama kebijakan perdagangan nasional, yakni pengamanan pasar dalam negeri, perluasan pasar ekspor, serta program “Dari Lokal untuk Global”. Strategi tersebut diarahkan untuk mengoptimalkan pasar Indonesia yang memiliki sekitar 282 juta penduduk sekaligus memperkuat daya saing produk UMKM.
“Bagaimana kemudian pasar yang besar ini diisi oleh produk-produk dalam negeri? Salah satunya bagaimana kita memberdayakan UMKM dan produk-produk lokal,” ujar Budi Santoso.
Menurutnya, produk lokal harus memiliki kualitas dan daya saing agar mampu menembus pasar modern maupun pasar internasional. Pemerintah terus mendorong kerja sama dengan retail modern dan industri, sedangkan perguruan tinggi dapat mengambil peran melalui pendampingan UMKM, pengembangan produk, peningkatan kualitas, pengemasan, hingga pemenuhan standar ekspor.
“Retail modern hanya menyediakan tempat, menyediakan display untuk produk-produk kita. Kita yang harus bisa membina, termasuk kampus, bagaimana membina UMKM kita agar produknya bisa masuk,” jelasnya.
Budi Santoso juga menyampaikan pentingnya memperluas akses pasar melalui perjanjian perdagangan dengan berbagai negara. Saat ini, Indonesia telah memiliki 25 perjanjian dagang yang sudah diimplementasikan, sementara dua lainnya masih dalam proses ratifikasi dan sejumlah perjanjian masih dalam tahap negosiasi.
“Sekarang kita sudah mempunyai perjanjian dagang dengan negara lain sebanyak 25 yang sudah implementasi. Kemudian yang sekarang proses ratifikasi ada dua, sisanya masih dalam proses negosiasi,” katanya.
Ia mencontohkan Amerika Serikat sebagai salah satu pasar penting Indonesia. Menurutnya, perdagangan Indonesia dengan Amerika Serikat menghasilkan surplus yang besar. Produk seperti tekstil dan produk tekstil, alas kaki, serta elektronik menjadi komoditas yang banyak diekspor dan berkaitan erat dengan industri manufaktur padat karya.
“Jadi kita ingin memperbanyak akses pasar kita,” tegasnya.
Melalui program “Dari Lokal untuk Global”, pemerintah ingin semakin banyak UMKM menjadi eksportir. Kementerian Perdagangan memiliki jaringan Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) dan perwakilan perdagangan Indonesia di berbagai negara yang dapat dimanfaatkan pelaku UMKM untuk mencari calon pembeli.
“Kita ingin yang ekspor itu tidak hanya perusahaan besar, tetapi UMKM juga bisa ekspor. Kita harus mempunyai kesempatan yang sama,” katanya.
Budi Santoso menyebut transaksi program UMKM bisa ekspor pada tahun sebelumnya mencapai sekitar 134 juta dolar AS. Sementara Januari-Juli tahun berjalan, nilainya telah meningkat menjadi sekitar 330 juta dolar AS.
Selain UMKM, pemerintah juga mendorong mahasiswa terlibat melalui program “Kampus Ekspor”. Mahasiswa diharapkan tidak hanya berorientasi menjadi pencari kerja setelah lulus, tetapi mulai belajar menjadi pengusaha dan menciptakan lapangan pekerjaan sejak masih kuliah.
“Kita ingin adik-adik nanti setelah lulus tidak mencari pekerjaan, tetapi menciptakan lapangan pekerjaan,” ujarnya.
Mahasiswa tidak harus membuat produk sendiri. Mereka dapat menggandeng UMKM yang memiliki produk potensial, kemudian mendapatkan pendampingan kampus untuk meningkatkan kualitas dan kapasitas produksi.
“Produknya tidak harus membuat sendiri. Produknya cukup dari UMKM. Adik-adik punya binaan UMKM, kemudian nanti mahasiswa bisa mempunyai binaan UMKM yang siap ekspor,” jelasnya.
Ia mengingatkan pelaku UMKM agar mempersiapkan kapasitas produksi sebelum memperoleh pesanan ekspor. Menurutnya, mendapatkan buyer bukan akhir dari proses, melainkan harus diikuti kemampuan memenuhi jumlah pesanan dan menjaga konsistensi kualitas.
“Jangan sampai nanti ketika dapat buyer, tidak bisa produksi. Kadang-kadang UMKM pusing tidak dapat buyer, tetapi ada juga yang pusing karena dapat buyer,” ujarnya.
Pemerintah juga mengembangkan program “Desa Ekspor” untuk membawa aktivitas ekspor hingga tingkat desa. Dari sekitar 2.600 desa yang telah diidentifikasi memiliki potensi ekonomi, sekitar 700 desa dinilai mempunyai produk potensial untuk ekspor.
Produk-produk tersebut diarahkan mendapatkan standardisasi, penguatan produksi, serta akses pasar internasional.
“Jadi kita ingin yang ekspor itu tidak di kota saja, tetapi di desa-desa ekspor,” katanya.
Budi Santoso juga mengajak mahasiswa yang memiliki minat menjadi pengusaha dan eksportir untuk memulai sejak sekarang. Aktivitas ekspor dinilai dapat menjadi bagian dari proses pembelajaran sekaligus pengalaman praktis sebelum mahasiswa memasuki dunia kerja.
“Kalau ada yang punya passion di ekspor atau pengusaha, belajarnya harus sekarang. Harus mulai sekarang,” ujarnya.
Ia menegaskan program Kampus Ekspor tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial. Perguruan tinggi harus mampu melahirkan mahasiswa yang benar-benar menjalankan usaha dan melakukan transaksi ekspor.
“Kami tidak mau program ini hanya menjadi program di atas kertas, tetapi harus ada realisasinya. Harus ada yang benar-benar ekspor,” tegasnya.
Sementara itu, Rektor Univet Bantara Sukoharjo, Prof. Dr. Farida Nugrahani, M.Hum., menyambut positif kehadiran Menteri Perdagangan. Menurutnya, kunjungan tersebut menjadi momentum strategis untuk mempertemukan dunia akademik dengan kebijakan perdagangan nasional sekaligus membuka peluang kolaborasi konkret.
“Saya berharap kehadiran Bapak Menteri di Universitas Bantara menjadi momentum yang mempertemukan dunia akademik dan kebijakan perdagangan nasional, sehingga berdampak terhadap kemajuan perguruan tinggi dan seluruh instansi yang berada di bawah YPP Veteran,” ujarnya.
Farida mengatakan Univet Bantara yang telah berusia 58 tahun terus berkembang dari lembaga pendidikan tenaga kependidikan menjadi perguruan tinggi dengan sejumlah fakultas dan program studi. Fakultas Ekonomi menjadi salah satu bidang yang memiliki keterkaitan erat dengan pengembangan kebijakan dan praktik perdagangan.
Univet Bantara, lanjutnya, tidak ingin hanya mencetak lulusan sebagai pencari kerja. Kampus juga diarahkan melahirkan pencipta lapangan kerja, inovator, entrepreneur, hingga eksportir muda melalui pembelajaran, kegiatan KKM, pendampingan masyarakat, serta pengembangan UMKM desa binaan.
“Kami berharap perguruan tinggi yang kami selenggarakan ini tidak hanya menjadi tempat mencetak para calon pencari kerja, tetapi menjadi tempat lahirnya pencipta lapangan kerja, inovator, entrepreneur dan syukur-syukur menjadi eksportir muda,” katanya.
Farida berharap kunjungan Menteri Perdagangan menjadi awal kolaborasi dalam program Kampus Trainer, pengembangan eksportir muda, pelatihan perdagangan internasional, riset kebijakan perdagangan, serta peluang magang mahasiswa di perwakilan perdagangan Indonesia di luar negeri.
“Kami berharap produk-produk yang hari ini kami pamerkan, baik dari Univet Bantara maupun SMK, mendapatkan pendampingan sehingga mampu mencapai pasar global,” pungkasnya.
Sebelum kuliah umum, Menteri Perdagangan meninjau sejumlah produk hasil karya siswa SMK Veteran 1 Sukoharjo dan hasil penelitian Univet Bantara. Budi Santoso juga mencoba mengendarai motor listrik karya siswa SMK Veteran 1 Sukoharjo.
Kehadiran produk inovatif tersebut menjadi bagian dari upaya mempertemukan pendidikan, riset, industri, dan kebijakan perdagangan. Menteri Perdagangan membuka peluang agar hasil riset dan karya siswa dapat dikembangkan bersama industri sehingga memiliki nilai ekonomi dan berpotensi menembus pasar ekspor. (Sofyan)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....