Tekan Dampak Asap, Pabrik Gula Mojo Janji Evaluasi Produksi

  • 04 Agt 2026 15:45 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Pabrik Gula PG Mojo Sragen mengevaluasi operasional produksi untuk menekan dampak asap dan abu atau langes yang selama musim giling 2026 dikeluhkan warga sekitar.

Evaluasi dilakukan setelah muncul aduan masyarakat terkait dampak langes yang menyelimuti lingkungan permukiman, menempel pada rumah, daun, hingga makanan. Kondisi tersebut juga disebut berdampak terhadap kesehatan warga dan usaha warung yang berada di kawasan terdampak.

PLT Lurah Sragen Tengah, Yuni Kusumawati mengatakan, keluhan warga telah berlangsung sekitar dua bulan. Aduan kemudian disampaikan secara resmi kepada Bupati Sragen, Dinas Lingkungan Hidup, dan PG Mojo.

Dari audiensi antara warga, PG Mojo, dan DPRD Kabupaten Sragen, disepakati dua langkah awal, yakni mengurangi produksi dari sebelumnya 3 ribu ton menjadi 2 ribu 800 ton, serta mengoptimalkan penggunaan alat penangkap abu atau ESP.

“Kami melakukan audiensi dengan DPRD yang difasilitasi oleh mereka para anggota DPRD dengan mengundang beberapa warga kami terutama warga Canggal Wetan di RW 13. Kemudian menghasilkan dua rumusan solusi, pertama pengurangan produksi 3.000 ton menjadi 2.800 ton. Kemudian yang kedua adalah pemasangan alat filter ESP, “ ujar Yuni saat dialog interaktif di RRI Selasa 4 Agustus 2026.

Yuni menyebut, langkah tersebut mulai menunjukkan hasil. Dalam sekitar satu minggu, debu di lingkungan warga disebut mulai berkurang.

Sementara itu, Manajer Teknik PG Mojo, Edi Sugihandoyo mengakui, aktivitas produksi pabrik gula masih menimbulkan dampak terhadap lingkungan sekitar, meskipun secara pengujian baku mutu emisi, PG Mojo dinyatakan memenuhi ketentuan.

Menurut Edi, peningkatan produksi tahun ini dipengaruhi meningkatnya hasil panen tebu petani. Kondisi tersebut membuat operasional pabrik mendekati kapasitas desain, sehingga diperlukan penyesuaian atau penyetelan kembali peralatan pengendali emisi.

“Boiler kita itu secara teknis didesain itu untuk 80 ton per jam setara 3.300. Secara historis dulu panen-petani tidak sebesar tahun ini. Kita mengoperasionalkan alat masih di bawah jauh di bawah desain. Ternyata tahun ini dengan, petani yang biasanya panennya melimpah, akhirnya memproduksi menuju ke batas optimalnya desain yang ada,“ ujar Edi.

PG Mojo telah melakukan penyetelan alat dengan melibatkan tenaga ahli dari pabrikan dan menyatakan dampak langes mulai mengalami penurunan. Edi menegaskan, PG Mojo berkomitmen mencari keseimbangan antara penyerapan hasil panen petani dan pengendalian dampak lingkungan.

Sementara itu, Pengawas Lingkungan Hidup DLH Kabupaten Sragen, Dhery Budi Nugroho mengatakan, hasil pengawasan terhadap PG Mojo menunjukkan parameter emisi masih berada dalam batas baku mutu yang dipersyaratkan.

Namun, DLH meminta PG Mojo melakukan kajian sebelum meningkatkan kapasitas produksi pada musim giling berikutnya. Kajian tersebut diperlukan untuk memastikan kemampuan alat penyaring, termasuk ESP, mampu mengimbangi kapasitas produksi.

"Untuk langkah jangka panjang, PG Mojo berencana menyempurnakan sistem pengendalian emisi dengan menambah satu fill pada ESP yang saat ini memiliki dua fill," ucapnya.

PG Mojo juga membuka ruang evaluasi bersama dengan pemerintah daerah, DLH, dan masyarakat untuk mencari solusi pengendalian dampak lingkungan. MI

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....