Imbas Keluhan Masyarakat, Komisi III DPRD Sragen Sidak PG Mojo

  • 24 Jul 2026 17:41 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, SRAGEN — Komisi III DPRD Kabupaten Sragen melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Pabrik Gula (PG) Mojo Sragen, Jumat 24 Juli 2026. Sidak dilakukan menyusul keluhan masyarakat sekitar terkait sebaran debu sisa penggilingan tebu hingga persoalan bau limbah cair pada musim giling tahun ini.

Sidak tersebut dilakukan untuk memediasi serta mencari solusi atas persoalan polusi udara dan lingkungan yang dinilai mulai mengganggu kenyamanan serta ekosistem warga setempat.

Sidak dipimpin Ketua Komisi III DPRD Sragen, Sugiyarto, Sekretaris Komisi III Budiono Rahmadi dan sejumlah anggota. Saat sidak wakil rakyat tersebut ditemui Direktur Utama PG Mojo Roh Sudianto.

Rombongan anggota dewan diterima manajemen PG Mojo di ruang rapat. Setelah itu mereka melihat langsung proses produksi gula dan sumber debu dari pabrik gula yang dibangun sekitar 1.880 an tersebut.

Di sela inspeksi, Sugiyarto mengungkapkan bahwa dari hasil pengecekan langsung di lapangan, penyebab utama peningkatan volume debu tersebut lantaran PG Mojo beroperasi melebihi kapasitas idealnya (over capacity).

"Setelah kami mengadakan cek lapangan di PG Mojo, ternyata kapasitas produksinya melebihi batas. Ibarat mobil atau motor tua yang dipaksa beroperasi tinggi, emisi debunya jadi terlalu banyak," ujar Sugiarto.

Pimpinan dan anggota Komisi III DPRD Sragen meninjau lokasi timbulnya debu di yang dikeluhkan masyarakat

Meski demikian, pihak manajemen PG Mojo diakuinya telah berupaya menekan sebaran debu tersebut, salah satunya dengan melakukan penyemprotan air (water spray). Sugiyarto menegaskan, keberadaan PG Mojo sebagai warisan sejarah harus tetap dijaga demi menampung hasil panen petani tebu, tetapi kesehatan dan kenyamanan warga sekitar juga wajib dilindungi.

"Di sisi lain, tapi di sisi lain itu warga harus juga dilindungi kehidupan sehari-harinya," ujar politikus PDI-P itu.

Pada kesempatan sama, Anggota Komisi III DPRD Sragen, Muhammad Haris Effendi, menuturkan bahwa peningkatan kapasitas giling dipicu oleh tingginya suplai tebu dari para petani di kawasan Surakarta dan sekitarnya. Jika kapasitas giling diturunkan atau jadwal panen ditunda, hal itu berisiko merugikan para petani karena kualitas tebu akan menurun dan mengering.

"Ini adalah situasi yang membutuhkan pemahaman bersama dari seluruh stakeholder. Saat ini manajemen sudah mengoperasikan saringan yang ada, namun hasilnya memang belum maksimal," kata Haris menjelaskan.

Guna meminimalisasi emisi secara permanen, PG Mojo berencana menambah unit alat penyaring polusi berupa Electrostatic Precipitator (ESP) pada musim giling mendatang.

"Tahun ini sudah dicarikan anggaran sekitar Rp10 miliar untuk menambah satu saringan lagi. Nanti kalau sudah ada tiga saringan, diharapkan emisi polusi udara bisa ditekan jauh lebih kecil lagi," ucap Haris menambahkan. MI

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....