PG Mojo Sragen Buka Suara Soal Keluhan Polusi Udara-Limbah Cair, Janji Tambah Filter

  • 25 Jul 2026 12:36 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, SRAGEN — Manajemen Pabrik Gula (PG) Mojo Sragen akhirnya memberikan klarifikasi resmi menanggapi keluhan masyarakat terkait gangguan debu, abu pembakaran, hingga polusi bau limbah cair. Penjelasan tersebut disampaikan langsung oleh Direktur Utama PG Mojo, Roh Sudianto, di hadapan pimpinan dan anggota Komisi III DPRD Kabupaten Sragen saat inspeksi mendadak (sidak) Jumat 24 Juli 2026 siang.

Di hadapan para wakil rakyat, Roh Sudianto mengungkapkan bahwa peningkatan dampak debu dan abu pembakaran pada musim giling kali ini dipicu oleh lonjakan kapasitas produksi tebu yang melebihi target normal over capacity.

"Kalau sebelumnya kapasitas giling kita berada di angka 2.400 TCD (Tons Cane per Day), tahun ini target dinaikkan menjadi 3.200 TCD. Artinya, ada kenaikan beban giling sekitar 600 hingga 700 TCD," ujar Roh Sudianto.

Ia menjelaskan, lonjakan beban kerja pada boiler pabrik secara otomatis meningkatkan dampak emisi abu ke udara. Kendati demikian, langkah pemaksaan kapasitas giling ini diambil demi menjalankan penugasan pemerintah terkait swasembada gula nasional serta mengakomodasi tingginya kapasitas tebang dari para petani lokal.

"Kami memohon maaf atas dampak abu yang muncul. Pada prinsipnya, ini bentuk penugasan swasembada gula dan upaya kami menyerap hasil tebang petani yang melebihi kapasitas giling normal," kata dia

Hingga saat ini, proses penggilingan tebu di PG Mojo baru mencapai sekitar 42 persen dari total target seasonal. Realisasi volume tebu yang tergiling berada di angka 190.000 ton dari target akhir yang dipatok sebesar 380.000 hingga 400.000 ton, dengan rata-rata kemampuan giling harian mencapai 3.000 TCD.

Mengenai efisiensi penangkapan emisi, pihak manajemen mengklaim peralatan penyaring polusi udara yang terpasang saat ini sebenarnya sudah bekerja sangat optimal.

"Efisiensi alat penangkap emisi kita saat ini sudah mencapai 99 persen, artinya hanya 1 persen emisi yang lolos. Di tempat lain rata-rata efisiensinya masih 95 persen. Namun, karena volume dan flow produksi naik signifikan, secara kesan visual dampaknya terasa meningkat di masyarakat," ujarnya.

Sebagai langkah perbaikan jangka panjang, PG Mojo merencanakan penambahan satu unit fasilitas Electrostatic Precipitator (ESP) pada musim giling tahun depan guna menekan sisa emisi hingga di bawah 1 persen.

"Investasi untuk penambahan ESP ini diperkirakan mencapai sekitar Rp10 miliar. Namun nilai tersebut masih estimasi kasar karena pembelian alat dipengaruhi kurs dolar serta dinamika geopolitik global saat ini," jelas Roh.

Sementara itu, menanggapi sorotan warga terkait bau menyengat dari limbah cair, Roh Sudianto menepis tuduhan bahwa aroma tak sedap tersebut murni berasal dari instalasi pengolahan limbah pabriknya. Berdasarkan hasil audit dan pengujian laboratorium dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Tengah, pencemaran di saluran air setempat juga dipengaruhi oleh tingginya akumulasi buangan limbah domestik.

"Dari hasil analisis lab DLH Provinsi, air limbah cair yang keluar dari pabrik kami sudah memenuhi baku mutu lingkungan. Bau yang tercium di aliran sungai sebenarnya campuran dari limbah rumah tangga dan usaha rumah makan yang terbuang di saluran air yang sama," ujarnya.

Ia menambahkan, PG Mojo secara teknis memiliki sistem penampungan (spray pond) yang sanggup mengoperasikan sistem zero discharge atau tanpa membuang air ke luar kawasan pabrik. Namun, pelepasan air terpaksa dilakukan atas permintaan tertulis dari sejumlah pemerintah desa dan kelompok petani setempat yang membutuhkan pasokan air irigasi. MI

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....