Tak Hanya Debu dan Abu, Legislator Demokrat Ini Sebut Warga Keluhkan Bau Limbah
- 25 Jul 2026 11:45 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, SRAGEN — Komisi III DPRD Kabupaten Sragen menggelar inspeksi mendadak (sidak) ke Pabrik Gula (PG) Mojo Sragen menyusul maraknya keluhan warga sekitar terkait polusi dari aktivitas penggilingan.
Selain masalah abu gosong dan debu penggilingan tebu yang beterbangan ke pemukiman, warga juga mengeluhkan aroma tak sedap serta aliran air pembuangan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) pabrik yang dinilai mengganggu kenyamanan lingkungan.
Sekretaris Komisi III DPRD Sragen, Budiono Rahmadi, menyampaikan bahwa pihaknya terus menjembatani aduan warga dengan pihak manajemen pabrik. Sebagai tindak lanjut, wakil rakyat merencanakan pertemuan resmi bersama warga terdampak dalam waktu dekat.
"Untuk penjelasan ke masyarakat, kebetulan hari Senin nanti ada audiensi tokoh-tokoh masyarakat sekitar sini dengan Komisi III," ujar legislator yang akrab disapa Mas Bro tersebut di sela Sidak, Jumat 24 Juli siang.
Terkait keluhan bau dan aliran air limbah, Politisi Partai Demokrat ini menjelaskan fakta di lapangan bahwa sistem pengelolaan air pembuangan di PG Mojo sebenarnya dirancang zero waste. Namun, alirannya dibuka atas permintaan para petani lokal.
"Air tadi kan bau, ternyata itu sebenarnya zero. Bau itu tidak dialirkan ke selokan sebenarnya bisa, tetapi ternyata justru atas permintaan petani. Petani meminta limbah dari sini dialirkan untuk irigasi. Baunya sendiri makin menyengat karena di saluran pembuangan sudah tercampur dengan limbah rumah tangga," ucap dia.
Sementara itu, Anggota Komisi III DPRD Sragen, Muhammad Haris Effendi, mengungkapkan bahwa pihak manajemen PG Mojo sebenarnya telah melakukan berbagai langkah penanggulangan polusi, meski diakui belum sepenuhnya maksimal akibat tingginya kapasitas produksi.
Haris menyebutkan, solusi permanen pengurangan emisi debu baru bisa dirasakan penuh pada 2027 mendatang seiring adanya penambahan fasilitas penyaring emisi baru.
"Tahun ini sudah dialokasikan anggaran sekitar Rp10 miliar untuk memasang satu alat saringan lagi. Saat ini yang beroperasi baru dua saringan, di mana efisiensi pembuangan emisinya masih menyisakan sekitar 5 hingga 15 persen kotoran. Jika kapasitas produksi dinaikkan, emisi ikut meningkat. Nah, kalau nanti sudah terpasang tiga saringan, emisi terbuang diperkirakan bisa ditekan hingga di bawah 5 persen," kata Haris menjelaskan.
Ia menambahkan, penurunan kapasitas produksi secara mendadak bukan solusi yang bijak karena akan berdampak langsung pada nasib para petani tebu di wilayah Sragen dan sekitarnya.
"Kalau kapasitas produksi diturunkan, emisi memang turun. Tapi kita harus menyadari, kalau penyerapan tebu ditunda atau jadwal giling diperpanjang ke belakang, tebu petani akan kering dan harganya jatuh. Kasihan petaninya," ucapnya.
Apalagi, kata Haris, keberadaan PG Mojo memiliki peran vital bagi industri gula regional setelah banyak pabrik gula peninggalan era Kerajaan di Surakarta tidak lagi beroperasi.
"Pabrik gula peninggalan (Mangkunegaran) Surakarta ini mungkin tinggal dua yang bertahan, sisanya sudah tutup. PG Mojo ini bahkan menampung pasokan tebu hingga Karanganyar. Jadi seluruh stakeholder harus memahami situasi ini. Manajemen terus berusaha memperkecil emisi, dan masyarakat diharapkan sedikit bersabar mempertimbangkan nasib para petani tebu yang bergantung pada pabrik ini," ucap dia. MI
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....