Air PDAM Boyolali Keruh, Pelanggan Mengeluh
- 21 Jul 2026 21:24 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Boyolali - Viral di media sosial (medsos) video yang memperlihatkan air PDAM berwarna keruh kecoklatan dan berbusa tak layak digunakan. Parahnya lagi air tersebut berbau kaporit.
Dalam video tersebut, air yang tertampung di dalam bak kamar mandi tampak berwarna keruh kecokelatan dan mengeluarkan busa.
Direktur Utama PDAM Tirta Ampera Boyolali, Iwan Marwanto, membenarkan adanya kejadian persoalan tersebut di wilayah Dukuh Keteng, Desa Penggung, Kecamatan Boyolali.
Ia mengatakan, kondisi itu terjadi akibat kesalahan pengaturan dosis gas klor dalam proses pengolahan air. "Ternyata penyebabnya itu ada keteledoran dari petugas. Kami memohon maaf," ujar Iwan, Selasa 21 Juli 2026.
Dia menjelaskan, awalnya air yang berasal dari Kedung Banteng dan Embung Meliakan berubah warna menjadi hijau. Petugas kemudian meningkatkan takaran gas klor dengan tujuan untuk menormalisasi kondisi air tersebut.
Namun, pengaturan dosis gas klor yang terlalu besar justru menyebabkan air bercampur dengan lumut sehingga menghasilkan air berwarna keruh dan berbusa.
"Awalnya itu tadi malam air dari Kedung Banteng dan Embung Meliakan berwarna hijau. Di sana tidak ada kaporit, melainkan adanya gas klor. Gas klor tersebut oleh petugas di lapangan dibesarkan takarannya dengan tujuan untuk menormalisasi air yang berubah warna menjadi hijau," jelasnya.
"Namun ternyata penyetelannya kegedean (terlalu besar). Makanya kemudian terjadi kontaminasi antara lumut dengan gas klor ini, sehingga bercampur menjadi satu," imbuhnya.
Menurut Iwan, kondisi tersebut telah ditangani oleh petugas. Perbaikan dan mitigasi dilakukan sekitar pukul 10.00 WIB.
Meski demikian, air yang sebelumnya telah terkontaminasi sudah terlanjur masuk ke dalam jaringan pipa distribusi.
Akibatnya, pelanggan masih bisa mendapatkan air keruh dan berbusa karena menggunakan air yang sebelumnya berada di dalam pipa.
"Karena perbaikannya sudah dilakukan tadi jam 10.00 WIB, sekarang airnya sebenarnya sudah berangsur normal kembali. Jadi sudah aman," ujarnya.
Iwan menegaskan, air yang keluar dari instalasi pengolahan air (IPA) dan masuk ke reservoir saat ini sudah kembali jernih dan normal.
Ia menjelaskan, dalam proses pengolahan air, terdapat tahapan akhir yang menggunakan bahan kimia untuk memastikan air yang didistribusikan kepada pelanggan memenuhi standar.
Namun, PDAM Tirta Ampera Boyolali menggunakan gas klor, bukan kaporit, dalam proses tersebut.
"Di tempat kami ada yang namanya Instalasi Pengolahan Air (IPA), yaitu water treatment process. Di water treatment process tersebut, pada tahap akhir pengolahan ada beberapa bahan kimia yang dimasukkan, salah satunya kaporit. Namun di sana kita tidak memakai kaporit, melainkan gas klor," terangnya.
"Pencampuran di tahap akhir inilah yang dosisnya kebesaran (terlalu banyak), makanya terjadi kontaminasi," lanjutnya.
Iwan mengimbau masyarakat agar tidak mengonsumsi air yang telah terkontaminasi dan keluar dari jaringan PDAM pada periode sebelum perbaikan dilakukan.
"Tidak boleh dikonsumsi untuk yang kemarin dan tadi. Tidak boleh dikonsumsi karena ada kesalahan pengaturan tadi," tegasnya.
Ia memastikan persoalan tersebut telah diperbaiki dan kondisi air di instalasi pengolahan maupun reservoir telah kembali normal.
"Makanya sekarang sudah kami perbaiki tadi jam 10.00 WIB. Sekarang di penampungan IPA, kalau keluar dari IPA masuk ke reservoir, nah di reservoir itu airnya sudah kembali jernih dan normal," pungkasnya. (Kisno/Rill)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....