STABN Raden Wijaya Sulap Sampah Plastik Jadi Bahan Bakar
- 04 Jul 2026 20:36 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Wonogiri - Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri (STABN) Raden Wijaya Wonogiri meresmikan Laboratorium Dharma Ekologi yang mampu mengolah sampah plastik menjadi bahan bakar minyak (BBM) dan gas. Fasilitas yang berada di Desa Bulusulur tersebut diresmikan oleh Bupati Wonogiri, Setyo Sukarno.
Inovasi ini berawal dari keprihatinan Ketua STABN Raden Wijaya Wonogiri, Sulaiman, yang melihat banyaknya tumpukan sampah plastik di lingkungan Asrama Mahasiswa Buddha.
“Banyak sampah menumpuk di asrama. Dari keresahan itu kami berpikir bahwa sampah tidak boleh hanya menjadi masalah, tetapi harus menjadi solusi yang bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya dalam rilis Jumat 3 Juli 2026.
Berangkat dari keresahan itu, STABN Raden Wijaya menggandeng Yayasan Get Plastic untuk menyelenggarakan pelatihan pengolahan sampah plastik menggunakan teknologi pirolisis. Pelatihan berlangsung selama tujuh hari, mulai Selasa 24 Juni 2026 hingga Senin 30 Juni 2026, di Eco-Theology Living Laboratory Dharma Ekologi.
Melalui teknologi tersebut, limbah plastik bernilai ekonomi rendah dapat diubah menjadi energi alternatif tanpa melalui proses pembakaran terbuka. Pelatih dari Yayasan Get Plastic, Ine, mengatakan kualitas bahan bakar sangat ditentukan oleh kondisi plastik yang digunakan.
“Mesin pirolisis yang dimiliki STAB Negeri Raden Wijaya saat ini mampu mengolah sekitar lima kilogram sampah plastik dalam satu kali proses. Dengan waktu pengolahan sekitar tiga jam, mesin dapat menghasilkan kurang lebih lima liter BBM (bahan bakar minyak),” jelasnya.
Ine menerangkan, jenis plastik yang direkomendasikan untuk diolah antara lain High-Density Polyethylene (HDPE), Low-Density Polyethylene (LDPE), Polypropylene (PP), dan Polystyrene (PS). Di antara jenis tersebut, plastik PP seperti gelas air mineral dan botol infus menghasilkan bahan bakar dengan kualitas terbaik.
Produk yang dihasilkan dari proses pirolisis cukup beragam, mulai dari solar, minyak pet yang sejenis minyak tanah, pertamax hingga gas cair seperti LPG. Bahkan, bahan bakar yang dihasilkan diklaim memiliki angka oktan atau RON 92,3, sedikit di atas RON Pertamax produksi Pertamina yang berada di angka 92.
Tak hanya menghasilkan bahan bakar, sisa pengolahan berupa black carbon juga masih dapat dimanfaatkan menjadi media tanam, paving block, briket, hingga bahan baku produk daur ulang seperti patung, piala dan vandel.
Menurut Sulaiman, pengembangan laboratorium ini tidak hanya berfokus pada pengelolaan sampah, tetapi juga diarahkan sebagai sarana pendidikan dan pemberdayaan masyarakat.
“Program ini juga diarahkan sebagai Program Kredensial Mikro bagi mahasiswa, sarana pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan sampah dari hulu atau rumah tangga, serta upaya menciptakan peluang ekonomi sirkular yang hasilnya dapat mendukung berbagai kegiatan sosial,” terangnya.
Sementara itu, Bupati Wonogiri, Setyo Sukarno, menyatakan dukungan penuh terhadap inisiatif tersebut. Menurutnya, pengelolaan sampah berbasis teknologi pirolisis menjadi terobosan penting dalam menjawab tantangan pembangunan berkelanjutan.
“Kami mengapresiasi sinergi antara akademisi dan komunitas dalam menciptakan solusi nyata dari persoalan limbah domestic. Hal ini sekaligus sebagai upaya strategis untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara luas melalui ekonomi sirkular,” katanya.
Bupati berharap model pengelolaan sampah berkelanjutan yang dikembangkan STABN Raden Wijaya dapat direplikasi di berbagai sektor. Inovasi tersebut diharapkan mampu mendorong kemandirian energi sekaligus menjaga kelestarian lingkungan di Kabupaten Wonogiri. (Ril/Ase)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....