Bulog Ungkap Penyebab Serapan Gabah di Sejumlah Daerah Solo Raya Belum Maksimal

  • 01 Jul 2026 07:33 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, SRAGEN – Realisasi penyerapan gabah dan beras oleh Perum Bulog Cabang Surakarta di sejumlah wilayah Solo Raya kedapatan belum maksimal hingga pertengahan tahun ini. Tingginya harga jual di tingkat petani yang berada di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP) menjadi faktor utama kendala penyerapan tersebut.

Kepala Cabang Perum Bulog Surakarta, Nanang Hariyanto, mengungkapkan bahwa dari seluruh wilayah kerja di eks-Karesidenan Surakarta, belum ada daerah lain yang mampu menyusul keberhasilan Kabupaten Sragen dalam memenuhi target 100 persen.

"Kalau kabupaten lain belum ada yang mencapai di 100 persen. Paling banyak di 83 persen itu di Kabupaten Sukoharjo," ujar Nanang saat dijumpai di Kompleks Pergudangan Bulog Duyungan, Sragen, Senin 29 Juni.

Sementara itu, penyerapan terendah saat ini berada di Kabupaten Boyolali. Realisasi pengadaan pangan di wilayah tersebut tercatat baru menyentuh angka kisaran 50 persen.

Nanang membeberkan, kendala utama yang dihadapi di lapangan adalah mekanisme pasar, di mana harga gabah di tingkat petani rata-rata melonjak hingga Rp7.300 per kilogram. Di sisi lain, Bulog memiliki keterikatan regulasi yang hanya membatasi harga beli maksimal di angka Rp6.500 per kilogram.

"Harganya kalau di atas Rp6.500 tentu kami enggak bisa membeli. Tapi artinya, di tingkat petaninya sudah sejahtera ya dengan harga segitu. Kalau di tingkat petani sudah Rp7.300, berarti petaninya lebih bisa mendapatkan keuntungan dari usaha taninya," katanya secara bijak.

Kondisi serapan di beberapa daerah ini berbanding terbalik dengan Kabupaten Sragen. Sebagai lumbung pangan utama, Sragen mencatatkan performa gemilang dengan realisasi menembus 111 persen, atau setara dengan menyumbang kontribusi 30 persen dari total target Solo Raya yang dipatok sebesar 93.000 ton.

Meski wilayah lain seperti Sukoharjo dan Boyolali masih seret, Perum Bulog Surakarta menegaskan tidak akan mengendurkan komitmen pengadaan. Pihaknya kini tengah bersiap mengoptimalkan momentum panen pada Masa Tanam (MT) 2 untuk mengejar sisa target Solo Raya yang masih minus sekitar 20.000 ton.

"Kemarin MT 1 sudah kita serap paling banyak. Ini MT 2 kita persiapkan, kalau memang harga di bawah Rp6.500, kita lakukan penyerapan. Itu ada di wilayah selain Sragen," ujar Nanang. MI

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....