Harga Telur Anjlok, Peternak Rakyat Keluhkan Biaya Produksi
- 02 Mei 2026 22:27 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta - Capaian swasembada telur nasional yang diraih sejak tahun 2024 kini justru memicu kekhawatiran akibat anjloknya harga di tingkat peternak. Kondisi ini ditandai dengan merosotnya harga telur hingga Rp21.000 per kilogram di saat beban biaya operasional terus membengkak.
Melambungnya harga pakan dan jagung yang menyentuh angka Rp7.100 per kilogram menjadi faktor utama yang menjepit kelangsungan usaha peternak rakyat. Persoalan tersebut dibahas dalam acara Rembug Nasional Peternak Rakyat Indonesia di Orient Restaurant, Sabtu 2 Mei 2026.
| Baca juga: Rahasia Simpan Telur Awet hingga 18 Bulan |
| Baca juga: Apakah Telur Omega Lebih Sehat? |
Ketua Presidium Pinsar Petelur Nasional (PPN), Yudianto Yosgiarso, mendesak pemerintah agar tidak hanya berfokus pada target peningkatan angka produksi semata. Pihaknya menuntut kehadiran negara dalam menjaga keseimbangan pasokan dan harga demi melindungi eksistensi peternak lokal di daerah.
"Kami berharap pemerintah tidak hanya mendorong peningkatan produksi, tetapi juga ikut menjaga keseimbangan antara pasokan dan harga," ujar Yudianto.
Sementara itu, pengurus PPN, Suwardi, menjelaskan bahwa produksi telur nasional saat ini sebenarnya sangat melimpah dengan capaian mencapai 18.000 ton per hari. Namun, melimpahnya stok tersebut tidak sebanding dengan tingkat konsumsi masyarakat yang saat ini sedang mengalami kelesuan.
"Langkah ini mampu menstabilkan harga di tingkat kandang pada kisaran Rp25.000 hingga Rp26.500 per kilogram," kata Suwardi.
Hasil rembug nasional ini akan segera diserahkan secara resmi kepada kementerian terkait. Para peternak juga menuntut penataan ekosistem perunggasan dari hulu hingga hilir guna menjamin keadilan bagi peternak kecil. (Reza/MI)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....