FKUB Lakukan Evaluasi Pasca Solo Terdepak dari 10 Besar Kota Toleran
- 23 Apr 2026 19:29 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta - Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) berencana melakukan evaluasi menyeluruh menyusul Kota Solo terdepak dari peringkat 10 besar Kota Toleran 2025 versi SETARA Institute.
Terdepaknya Kota Solo dari 10 besar Indeks Kota Toleran sendiri bukan kali pertama. Karena pada tahun sebelumnya pada 2024, Solo juga tidak masuk dalam 10 besar.
Dihubungi melalui sambungan telepon pada Kamis, 23 April 2026, Ketua FKUB Kota Solo, HM Mashuri mengatakan belum mengetahui penyebab pasti Kota Bengawan kembali tidak masuk 10 besar Kota Toleran.
"Kenapa Solo dua tahun berturut-turut tidak masuk 10 besar kota paling toleran, hanya berada di posisi 12 besar. Itu karena tahun 2024 ada yang dianggap tindakan intoleran tentang festival halal non-halal. Kemudian yang ini (2025), kami juga belum tahu. Apakah sama ada kasus intoleran festival halal non-halal yang kedua karena itu di tahun 2025. Maka perlu kita evaluasi," kata HM Mashuri.
Ketua FKUB Solo ini menilai bahwa sebenernya Kota Bengawan sudah memiliki regulasi toleransi yang selalu dijalankan, serta menggulirkan 54 Kelurahan Sadar Kerukunan. Penerapan lain terkait toleransi pun juga sudah dilakukan.
"Kita sudah ada Perwali tentang Internalisasi Pancasila, kemudian ada Perda tentang toleransi masyarakat. Terus kita juga sudah menggulirkan 54 Kelurahan Sadar Kerukunan berbasis tiga hal yaitu Sentra Industri atau UMKM, yang kedua religi, yang ketiga budaya lokal. Kemudian kami juga sudah membentuk pengurus di level Kelurahan yaitu Forsita Forsitoga. Terus kami juga sudah ada generasi muda FKUB yang kita sudah breakdown sampai di level Kecamatan," katanya menambahkan.
Meskipun begitu, ke depan dikatakan HM Mashuri juga, bahwa pihaknya bersama Organisasi Perangkat Daerah (OPD) akan melakukan evaluasi terhadap hasil penilaian dari SETARA Institute, demi meraih penilaian terbaik dan tidak ada lagi kegiatan yang dianggap intoleran.
Diketahui dalam data penilaian SETARA Institute, Kota Salatiga menduduki peringkat pertama dengan skor 6,492 dan di posisi kedua diisi Singkawang dilanjutkan Semarang, Pematangsiantar, Bekasi, Sukabumi, Magelang, Kediri, Tegal dan ditutup Ambon.
Sementara itu dalam kesempatan berbeda, Ketua Perkumpulan Masyarakat Surakarta (PMS), Sumartono Hadinoto menganggap masih ada masyarakat yang memang dianggap tidak ingin Kota bengawan sebagai kota Toleran. Hal itu lantaran dirinya melihat masih adanya warga yang melakukan kegiatan melawan toleransi.
"Kelihatannya kan masih banyak orang-orang yang masih menginginkan Solo itu tidak toleransi menurut saya. Karena hal-hal yang sepele pun masih dilakukan, ya sesuatu yang berlawanan dengan toleransi," ucap Sumartono Hadinoto.
Demi menanggulangi hal itu, Sumartono berharap Pemerintah Kota bisa sigap melakukan pencegahan jika terjadi suatu konflik yang menyangkut toleransi di Kota Solo. (JK/MI)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....