Khotbah di Lapangan Kottabarat, Prof Andri: Pentingnya Istiqamah Usai Ramadan

  • 20 Mar 2026 13:53 WIB
  •  Surakarta

Khotbah di Lapangan Kottabarat, Prof Andri: Pentingnya Istiqamah Usai Ramadan

RRI.CO.ID, Surakarta - Ribuan umat Islam memadati Lapangan Kottabarat untuk melaksanakan Shalat Idulfitri 1447 H, Jumat 20 Maret 2026. Bertindak sebagai imam dan khotib, Prof. Andri Nirwana, Guru Besar Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Pantauan di lokasi, sejak pukul 06.00 WIB, jamaah telah memadati lokasi dengan iringan lantunan takbir yang menggema. Panitia menyiapkan 12 shaf atau barisan untuk menampung jamaah yang hadir. Sedikitnya 1.200 jemaah mengikuti Salat Ied di Lapangan Kottabarat.

Dalam khutbahnya, Prof. Andri Nirwana mengajak seluruh jamaah untuk menjaga istiqamah dalam beribadah setelah bulan Ramadan. Ia menegaskan bahwa tantangan terbesar umat Islam bukan hanya menjalankan ibadah selama Ramadan, tetapi bagaimana mempertahankan konsistensi tersebut di bulan-bulan berikutnya.

“Pada bulan Ramadan, ibadah terasa lebih ringan karena setan dibelenggu. Namun, tantangan sesungguhnya adalah bagaimana menjaga konsistensi ibadah di luar bulan Ramadan,” ujarnya di hadapan jamaah.

Ia menjelaskan bahwa salah satu kunci menjaga istiqamah dalam ibadah adalah peran keluarga dalam menjalankan kebiasaan. Menurutnya, keluarga perlu menyusun jadwal rutin, seperti puasa sunnah, salat berjamaah, serta membaca Al-Qur’an agar amalan Ramadan tetap berlanjut.

“Jika kebiasaan ini tidak dibangun dalam keluarga, akan sulit untuk istiqamah, apalagi ketika masing-masing anggota memiliki kesibukan. Dengan perencanaan yang baik, amalan Ramadan bisa terus berlanjut hingga bertemu Ramadan berikutnya,” kata dia.

Jemaah Salat IdulFitri di lapangan Kottabarat Solo mendengarkan khotbah yang disampaikan Prov Andri.

Selain itu, Prof. Andri juga menyinggung perbedaan penetapan Hari Raya Idul Fitri yang terjadi di tengah masyarakat. Ia mengimbau umat Islam untuk menyikapi perbedaan tersebut dengan bijak dan penuh kedewasaan.

Menurutnya, perbedaan tersebut muncul karena perbedaan metode, seperti rukyat dan hisab. Muhammadiyah, misalnya, telah menggunakan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang berbasis perhitungan ilmiah dan dapat diprediksi jauh ke depan.

“Pada masa Rasulullah, rukyat digunakan karena keterbatasan ilmu pengetahuan. Saat ini, ilmu astronomi sudah berkembang, sehingga penentuan kalender bisa dilakukan secara lebih akurat. Perbedaan ini tidak seharusnya menjadi sumber perpecahan,” ucap dia.

Ia pun mengingatkan pentingnya menjaga ukhuwah Islamiyah dengan saling menghormati dan memahami perbedaan yang ada.

Pelaksanaan Shalat Idul Fitri di Lapangan Kottabarat berlangsung tertib, khusyuk, dan penuh kebersamaan. Momentum ini tidak hanya menjadi ajang ibadah, tetapi juga mempererat tali persaudaraan umat Islam.

Diharapkan, semangat Ramadhan yang telah dijalani dapat terus terjaga dalam kehidupan sehari-hari, sehingga melahirkan pribadi yang lebih baik dan berdaya bagi umat serta bangsa. (Ary/MI)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....