Warga Muhammadiyah Solo Kedepankan Toleransi saat Beda Idulfitri 1447H

  • 20 Mar 2026 11:42 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta – Di tengah perbedaan tanggal, sejumlah umat muslim tetap memilih saling menghargai dan kedepankan toleransi.

Seperti diketahui, Pimpinan Pusat Muhammadiyah menetapkan 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada hari Jumat, 20 Maret 2026, sedangkan pemerintah menetapkannya pada keesokan harinya.

Perbedaan ini membuat pelaksanaan ibadah salat Idulfitri di berbagai daerah, termasuk di Kota Surakarta, berlangsung pada hari yang berbeda. Meski demikian, situasi tersebut tidak membuat warga Muhammadiyah di Kota Bengawan merasa resah.

Salah seorang jemaah asal Solo, Khadijah Nabila, memilih untuk melangsungkan ibadah salat Idulfitri di Pamedan Pura Mangkunegaran bersama ribuan warga lainnya. Ia datang pada hari Jumat pagi bersama suami dan anaknya dengan penuh sukacita tanpa mempermasalahkan perbedaan penetapan tanggal tersebut.

"Perbedaan keadaan itu sah-sah saja, tidak perlu dipermasalahkan atau diperdebatkan. Semua harus mengedepankan toleransi," ujar Khadijah Nabila saat ditemui usai melaksanakan salat di Surakarta, Jumat, 20 Maret 2026.

Setelah melaksanakan salat, Khadijah berencana untuk melanjutkan kegiatan dengan bersilaturahmi ke rumah sanak saudara. Di momen kemenangan ini, ia menaruh harapan besar agar kehidupan masyarakat semakin baik ke depannya.

Selain itu, ia juga berdoa agar senantiasa diberikan kelapangan usia sehingga dapat dipertemukan kembali dengan bulan suci Ramadan di tahun-tahun mendatang.

Senada dengan Khadijah, jemaah lain yang juga menunaikan salat Idulfitri di Pamedan Mangkunegaran, Didik Hari Nurdin, turut menanggapi perbedaan tersebut dengan santai.

Baginya, memilih waktu untuk melaksanakan salat Id merupakan hak dan pilihan pribadi masing-masing individu. Ia menekankan bahwa kerukunan antara warga Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) harus selalu dijaga melalui sikap toleransi sesama muslim.

"Indonesia itu kan ada yang Muhammadiyah, ada yang NU, jadi toleransi saja sesama muslim dan monggo saja karena tidak ada masalah. Tapi ke depannya, kalau bisa pelaksanaannya serentak agar tidak berbeda," kata Didik memberikan tanggapannya.

Seusai salat, Didik memiliki rutinitas untuk berziarah ke makam keluarga sebelum bersilaturahmi dengan kerabat dan kembali berkumpul di rumah. Di usia perayaan Lebaran tahun ini, pria asal Solo tersebut memanjatkan doa khusus untuk kesejahteraan bangsa.

Ia berharap kondisi Indonesia semakin makmur, kerukunan terus terjaga, serta harga kebutuhan pokok seperti sembako bisa lebih stabil bagi masyarakat luas. (Dania)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....