Fasilitas Lengkap, Kasus HIV di Kota Solo Didominasi Warga Luar Daerah

  • 11 Jun 2026 16:02 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta – Kelengkapan fasilitas kesehatan serta tingginya mobilitas penduduk menjadikan Kota Solo sebagai wilayah tujuan utama bagi masyarakat luar daerah untuk mengakses layanan kesehatan.

Namun, kondisi ini berimplikasi pada tingginya angka temuan kasus penyakit menular, khususnya HIV, yang tercatat di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan setempat.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Surakarta, Retno Erawati, menyebutkan berdasarkan data kumulatif hingga Mei 2026, tercatat ada 112 kasus HIV baru yang ditemukan.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 83 kasus didominasi oleh warga luar daerah, sedangkan penderita yang beridentitas dalam Kota Solo hanya berjumlah 29 orang.

"Rata-rata masyarakat itu mereka itu tidak mau periksa di tempat pelayanan kesehatan yang di dekat rumahnya. Mereka memilih tempat yang jauh supaya tidak ketahuan oleh lingkungannya atau bahkan oleh keluarganya sendiri," ujar Retno, Rabu 10 Juni 2026.


Selain karena faktor privasi untuk menghindari stigma sosial, para pasien dari luar kabupaten sekitar sengaja memilih Surakarta karena kualitas layanan medisnya dinilai jauh lebih unggul.

Kota Solo dinilai memiliki ketersediaan alat medis yang lebih modern, kompetensi sumber daya manusia tenaga kesehatan yang mumpuni, serta jaminan akses obat-obatan yang lebih mudah didapatkan.

Guna menekan angka penularan yang lebih luas, Dinas Kesehatan Kota Surakarta gencar melakukan skrining secara massal dengan menyasar populasi kunci pada sore dan malam hari.

Dalam pelaksanaan Voluntary Counseling and Testing atau VCT ini, pihak dinas menggandeng sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat yang fokus pada penanggulangan HIV untuk mengoptimalkan penemuan kasus baru.

"Semua Puskesmas di Surakarta ini sudah melakukan layanan untuk HIV dan menjadi klinik PDP (Perawatan, Dukungan, dan Pengobatan). Kami juga menguatkan kompetensi rumah sakit sehingga akses masyarakat terhadap layanan kesehatan menjadi lebih mudah," kata Retno menambahkan.

Langkah penanganan medis ini juga diimbangi dengan edukasi masif ke sekolah-sekolah serta penguatan kurikulum pergaulan melalui peran aktif guru kelas.

Upaya penekanan kasus turut diperkuat di tingkat akar rumput melalui Warga Peduli AIDS di setiap kelurahan, dengan tujuan mengikis stigma negatif di masyarakat demi tercapainya keberhasilan pengobatan pasien. (Dania)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....