Peringkat Kedua Kasus HIV AIDS Jateng, Pemkot Solo Siapkan Langkah Penanganan
- 02 Jun 2026 10:38 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan data tahun 2025 terkait kasus HIV AIDS di Jawa Tengah. Dari data tersebut diketahui Kota Solo berada pada peringkat kedua di Jawa Tengah dengan angka 412 kasus.
Menindaklanjuti data BPS tahun 2025, Wali Kota Solo, Respati Ardi saat ditemui disela-sela kegiatannya pada Sabtu, 30 Mei 2026, menegaskan penanganan HIV AIDS akan menjadi perhatian serius Pemerintah Kota.
"Ini menjadi keseriusan bagi kami, komitmen terhadap pemberantasan AIDS akan kita selesaikan, kita sosialisasikan ke masyarakat dan lebih kita perhatikan terkait penyakit masyarakat," kata Respati Ardi.
Ke depan dikatakan Respati juga bahwa edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat akan terus diperkuat, terutama bagi kalangan remaja dan generasi muda. Edukasi juga akan dilakukan secara berkelanjutan melalui pendidikan formal maupun non formal.
"Kita akan edukasi secara terus menerus di pendidikan formal maupun non formal dan nanti untuk Komisi Penanggulangan AIDS akan kita turunkan ke masyarakat supaya masyarakat mengetahui bahayanya AIDS dan mengurangi pergaulan bebas serta langkah preventif Kota Solo akan kita tempuh," katanya menambahkan.
Sementara itu, dihubungi secara terpisah, Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Kota Solo, Widdi Srihanto mengatakan dengan tingginya angka kasus, menandakan proses deteksi dan pendataan berjalan dengan baik.
"Kita ambil dari sisi positifnya, ini kan fenomena gunung es, semakin banyak yang ditemukan, artinya bisa kita pecahkan, entah itu warga Solo ataupun bukan, atau karena domisilinya di Solo tetap harus dilayani," ucap Widdi Srihanto.
Lebih lanjut dijelaskan Widdi Srihanto juga, bahwa pasien positif HIV AIDS seringkali tidak terbuka dan menutup diri. Hal tersebut yang membuat pihaknya sulit melakukan pendampingan.
"Mereka kadang tidak terbuka ke kita dan lebih terbuka kepada komunitas atau orang yang dipercaya. Kita perlu mendampingi agar mereka tidak malu, mau berobat ataupun disiplin mau berobat. Saya kira apabila mereka disiplin dan didampingi, bisa hidup normal," ucapnya menambahkan.
Selain tidak terbuka, KPA Solo juga memiliki kendala lain, yakni banyak masyarakat yang positif HIV AIDS berpindah-pindah tempat tinggal, sehingga pendataan dan penanganan jadi permasalahan terbesar di lapangan. (JK)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....