Kisah Marsella Wahyu Mutia, Pelopor Kalpataru Yuvan Pertama dari Bumi Sukowati

  • 26 Agt 2026 17:39 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, SRAGEN — Langkah kaki Marsella Wahyu Mutia mantap menyusuri tanah kritis di utara Bengawan Solo. Di jemarinya yang masih belia, tanah dan bibit pohon bukan sekadar simbol penghijauan, melainkan bukti cinta pada kelestarian bumi.

Siapa sangka, ketekunan remaja 18 tahun asal Dukuh Gesi, Desa Gesi, Kecamatan Gesi, Kabupaten Sragen ini berbuah manis. Sella, sapaan akrabnya resmi mengukir sejarah sebagai penerima Kalpataru Yuvan 2026 pertama di Indonesia. Kategori ini merupakan apresiasi paling gres dari Kementerian Lingkungan Hidup (Kemen LH) bagi inovator muda lingkungan.

Apresiasi tersebut diserahkan langsung oleh Menteri LH Mohammad Jumhur Hidayat di Jakarta International Convention Center (JICC). Capaian ini terasa kian istimewa karena diraih hanya berselang sebulan setelah Sella lulus dari SMAN 1 Sragen, tepat sebelum ia melangkah ke Program Studi Manajemen Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.

"Saya tidak mengira bisa mendapat penghargaan ini. Kategori ini baru ada pada 2026 dan saya menjadi orang pertama sekaligus yang termuda penerimanya di Indonesia," tutur Sella dengan nada bersyukur, saat dijumpai awak media belum lama ini.

Benih kepedulian Sella tak muncul mendadak. Semuanya bermula saat ia duduk di bangku SMPN 1 Gesi. Terpantik rasa penasaran akan program Sekolah Adiwiyata, Sella justru memberanikan diri berkonsultasi langsung ke Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sragen.

"Dari situ saya semakin memahami isu lingkungan dan tergerak untuk terlibat langsung," ucap dia mengenang masa-masa awal perjalanannya.

Tak ingin bergerak sendirian, Sella merangkul lima rekannya untuk mendirikan Warsa Kelana (Wadah Aksi Remaja Sadar Kelestarian Alam Nusantara) pada awal 2023. Berawal dari kampanye media sosial, gerakan ini cepat menggelinding menjadi aksi nyata di lapangan.

Aksi konkret Warsa Kelana berfokus pada restorasi lahan dan konservasi air. Seperti konservasi sumber mata air, menjaga pasokan air di Desa Banyurip, Kecamatan Jenar. Kemudian restorasi lahan kritis, dengan pembuatan biopori dan penanaman pohon produktif (alpukat dan nangka) di Desa Poleng, Kecamatan Gesi.

Tak hanya itu, gadis itu juga menyiapkan satu lubang biopori berisi kompos untuk mendampingi setiap satu bibit pohon agar penyerapan air optimal. "Kegiatan rutin kami lakukan tiap akhir pekan. Dalam sehari kami bisa membuat sekitar 15 biopori. Selain menjaga tanah menyerap air, pohon produktif ini diharapkan memberi manfaat ekonomi bagi warga," katanya menjelaskan.

Penghargaan Kalpataru Yuvan tak membuat Sella jemawa. Usai menyabet penghargaan nasional dan didapuk menjadi narasumber kegiatan Kemen LH di Bali, Sella langsung tancap gas memperluas jejaring gerakannya.

Kini, Warsa Kelana telah berkembang pesat menaungi lebih dari 100 anggota aktif dari jenjang SMP, SMA, hingga perguruan tinggi. Bersama barisan pemuda ini, Sella bertekad mengawal kelestarian lingkungan dan menjaga napas hijau di Tanah Sukowati. MI

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....