Kelola Sampah dari Rumah, Wujudkan Lingkungan Bersih
- 06 Jul 2026 15:35 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta – Persoalan sampah di Indonesia dinilai semakin mendesak dan membutuhkan keterlibatan seluruh masyarakat. Pengelolaan sampah tidak cukup berhenti saat dibuang ke tempat sampah, tetapi harus dimulai dari rumah melalui kebiasaan memilah dan mengolah sampah sejak sumbernya.
Hal tersebut disampaikan Pengabdi Lingkungan KALPATARU 2025, Mulyani, S.Pd, dalam dialog Beranda Asta Cita yang disiarkan RRI Pro 1 Surakarta dan berjaringan dengan RRI Yogyakarta, Semarang, serta Purwokerto. Menurut Mulyani, kondisi persampahan di Indonesia saat ini sudah berada pada tahap yang mengkhawatirkan sehingga masyarakat perlu mengubah cara pandang terhadap sampah.
"Persoalan sampah di Indonesia itu betul-betul serius. Indonesia memproduksi sampah dalam jumlah yang sangat besar. Karena itu masyarakat diarahkan untuk memilah sampah dari rumah dan menuntaskan sampah dari rumah, baik organik maupun anorganik, sehingga yang masuk ke TPA hanya residunya," katanya.
Ia menjelaskan, sampah yang masih memiliki potensi manfaat sebaiknya tidak langsung dibuang. Di rumahnya, hampir seluruh limbah rumah tangga dimanfaatkan kembali, mulai dari sisa daun yang dijadikan kompos hingga plastik kresek yang dibersihkan untuk diolah menjadi ecobrick maupun berbagai kerajinan.
Bersama suaminya, Nurul Rohmadi, S.Pd, yang juga pegiat Pengolahan Daur Ulang Kreasi (PDUK) "Griya Karebet", Mulyani telah mengembangkan berbagai produk kreatif berbahan limbah rumah tangga sejak 2013. Berbekal latar belakang sebagai guru seni, keduanya berhasil mengubah plastik kresek, tutup botol, kardus, koran bekas, hingga pakaian bekas menjadi tas, topi, gantungan kunci, kap lampu, dan beragam produk bernilai jual.
Nurul Rohmadi menegaskan bahwa persoalan sampah sejatinya merupakan tanggung jawab setiap individu. Menurutnya, perubahan harus diawali dari perubahan pola pikir masyarakat.
"Sampah itu bagian dari perilaku kita yang mau tidak mau harus kita selesaikan sendiri. Mindset kita harus berubah bahwa sampah jika dikelola dengan benar akan memiliki nilai sosial maupun nilai ekonomi," katanya.
Ia menjelaskan, pengelolaan sampah tidak hanya berdampak pada kebersihan lingkungan, tetapi juga dapat mempererat hubungan sosial melalui kegiatan bersama di tingkat RT maupun bank sampah. Selain itu, berbagai hasil daur ulang juga mampu memberikan tambahan pendapatan bagi masyarakat.
Selama lebih dari satu dekade, pasangan ini aktif mendampingi pembentukan bank sampah di berbagai daerah, sekaligus memberikan pelatihan kepada masyarakat agar mampu mengolah limbah menjadi produk kreatif. Mereka juga terlibat dalam pengembangan Program Kampung Iklim (ProKlim) dan pembinaan UMKM berbasis daur ulang.
Menurut Mulyani, nilai ekonomi sampah dapat meningkat berkali-kali lipat apabila diolah dengan kreativitas. "Kalau sampah kresek dijual mungkin hanya bernilai sekitar dua ribu rupiah per kilogram. Tetapi di tangan kami bisa menjadi produk yang harganya puluhan ribu rupiah. Jadi sampah itu bisa berdampak ekonomi sekaligus sosial," ucapnya.
Pada akhir dialog, kedua narasumber mengajak masyarakat membiasakan penerapan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) dalam kehidupan sehari-hari. Kebiasaan sederhana seperti membawa tumbler, menggunakan kembali barang yang masih layak, hingga mendaur ulang limbah dinilai menjadi langkah nyata untuk mengurangi timbunan sampah.
"Sampah itu adalah tanggung jawab kita. Kelola dengan bijaksana, dengan baik, sehingga berdampak bagi kesehatan, lingkungan, kehidupan sosial, bahkan ekonomi," kata Nurul Rohmadi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....