Green Impact Project 2026 Dorong Mahasiswa Hadirkan Solusi Lingkungan
- 23 Agt 2026 22:46 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta – Generasi muda didorong tidak berhenti pada gagasan dalam menjawab persoalan lingkungan, tetapi mampu mengubah ide menjadi solusi yang memberikan dampak nyata dan berkelanjutan. Pesan tersebut mengemuka dalam final Green Impact Project 2026 bertema Green Campus Sadar Lingkungan: “Be There, Witness the Impact” di Aula Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS), Sabtu 22 Agustus 2026.
| Baca juga: Matcha dan Green Tea, Apa Bedanya? |
Director Communications Djarum Foundation, Mutiara Diah Asmara, mengatakan Green Impact Project menjadi bukti keberanian generasi muda mengambil peran dalam menghadapi tantangan lingkungan. Menurutnya, ratusan ide yang terkumpul menunjukkan kepedulian mahasiswa terhadap berbagai persoalan lingkungan.
“Hari ini kita menyaksikan bahwa generasi muda tidak berhenti di gagasan saja, tapi berani melangkah untuk menjawab tantangan lingkungan,” kata Mutiara.
Mutiara berharap program tersebut tidak hanya melahirkan gagasan baru, tetapi juga solusi yang dapat diterapkan secara berkelanjutan. Ia mendorong mahasiswa terus berpikir, berkolaborasi, menghasilkan karya, dan memberikan dampak bagi lingkungan.
“Teruslah berani berpikir, berkolaborasi, menghasilkan, dan memberikan dampak. If you want to go fast, go alone. If you want to go far, go together,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Rektor II Bidang Sumber Daya UNS, Prof. Dr. E. Muhtar, S.Pd., M.Si., CFrA., berharap Green Impact Project berkembang menjadi ruang kolaborasi yang melahirkan aksi nyata. Menurutnya, upaya menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab bersama yang dapat dimulai dari lingkungan kampus.
“Saya berharap kegiatan ini tidak hanya menjadi kompetisi, tetapi juga menjadi ruang berkolaborasi dan melahirkan aksi-aksi nyata dari lingkungan kampus dan lingkungan masyarakat kita,” ujar Muhtar.
Dalam final Green Impact Project 2026, lima tim mahasiswa mempresentasikan hasil implementasi proyek lingkungan mereka di hadapan dewan juri. Tim Eco Juris dari UNS meraih juara melalui gagasan pengelolaan limbah organik kantin dengan budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) yang dimanfaatkan sebagai pakan lele dalam sistem budikdamber serta menghasilkan pupuk organik.
Posisi berikutnya ditempati Eco Lin Craft, kolaborasi mahasiswa UNS dan STM MMTC Yogyakarta, yang mengembangkan limbah tekstil menjadi produk kreatif bernilai ekonomi. W2W Team dari Universitas Diponegoro mengembangkan pemanfaatan maggot untuk mengurai sisa makanan, Eco Vibes dari Universitas Muria Kudus memanfaatkan bonggol jagung sebagai media budidaya jamur, sedangkan Climate Warrior dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mengolah minyak jelantah menjadi sabun. (Reza)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....