Menyulap Limbah SPPG Jadi Berkah, di Tangan Sugiyono Plastik Jadi Biofuel
- 17 Agt 2026 14:03 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, SRAGEN — Suara gemercik air di sudut Desa Jambeyan, Sambirejo, Sragen, kini terdengar lebih tenang. Tak ada lagi bau menyengat dari limbah cair yang meresahkan, atau tumpukan sampah plastik yang menumpuk di tepi sungai.
Di balik perubahan ini, ada sosok Sugiyono, seorang aktivis lingkungan yang mengubah pandangan warga tentang sampah, dari ancaman lingkungan menjadi sumber energi terbarukan. Semua berawal dari keprihatinannya melihat kebiasaan masyarakat membuang sisa buangan ke aliran sungai.
Saat program Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) mulai beroperasi di desanya, volume limbah harian otomatis melonjak. Berbekal semangat swadaya dan rasa ingin tahu yang tinggi, Sugiyono memutuskan bertindak.
Awalnya, Sugiyono merancang insinerator minim asap untuk memusnahkan bungkus bahan makanan dan tali rafia. Namun, ia menyadari pembakaran berbahan kayu dan plastik sisa MBG tetap menghasilkan asap yang tak ramah lingkungan.
"Jadi mulai bungkus-bungkus bahan, terus kemudian tali rafia dan lain sebagainya itu saya gunakan untuk membakar. Tapi itu kan menjadi banyak asap. Akhirnya kan tidak solutif lagi menurut saya," ucap Sugiyono kepada awak media baru-baru ini.
Mencari jawaban atas permasalahan tersebut, Sugiyono memutar otak hingga menemukan ide untuk mengubah sampah plastik yang mudah terbakar menjadi bahan bakar cair. Ia mulai berselancar di internet dan memanfaatkan panduan Artificial Intelligence (AI) hingga berhasil merancang instalasi penyulingan sederhana.
Dalam proses ini, plastik dimasukkan ke dalam tabung tertutup lalu dipanaskan menggunakan kompor berbahan bakar oli bekas agar minim asap. Uap panas dari pemanasan tersebut kemudian dialirkan melalui pipa besi berpendingin hingga mengembun menjadi cairan bahan bakar alternatif.

"Ini masih dalam tahap uji coba. Terus, jadi saya belum bisa memberikan informasi misalkan 10 kilo plastik jadi berapa liter BBM, gitu belum bisa. Lah, nanti BBM-nya itu juga wujudnya cair gitu aja. Lah, kategorinya nanti itu menjadi apa, kita juga belum tahu karena tidak punya ilmunya untuk menentukan itu jenis apa," kata dia membeberkan.
Tak hanya sampah padat, limbah cair dari dapur MBG seperti minyak jelantah dan air cucian berbau tajam juga mendapat perhatian serius. Minyak goreng bekas mengalir dialihkan untuk diolah menjadi biodiesel sebagai langkah antisipasi pemanfaatan energi terbarukan.
Sementara itu, untuk menaklukkan air limbah yang berbau, Sugiyono menerapkan sistem Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) sederhana yang memadukan kerja bakteri aerob dan anaerob.
Alih-alih menggunakan bahan kimia mahal atau disinfektan seperti karbol, ia memilih meracik sendiri bakteri pengurai alami bernama Trichoderma. Pembiakannya memanfaatkan bahan baku sederhana di sekitar rumah, diawali dari nasi karak sisa yang dibungkus daun bambu lapuk selama tiga hari hingga menumbuhkan jamur alami.
Jamur ini kemudian dicampur dengan air kelapa dan air leri cucian beras, lalu ditambahi tetes tebu (molase), rebusan kentang, atau kuning telur sebagai nutrisi agar bakteri aktif berkembang biak dalam kurun waktu dua minggu.
"Kalau beli produk di pasaran seperti EM4 tentu mahal. Jadi kita cari solusi yang lebih murah dan bisa dibuat sendiri dalam volume besar," ucap Sugiyono.
Sebagai wilayah pegunungan di mana aliran airnya bermuara ke pemukiman di bawah, faktor keamanan lingkungan menjadi prioritas utama Sugiyono. Ia memastikan bahwa air hasil olahan sistem IPAL buatannya tidak langsung dibuang begitu saja ke saluran irigasi warga.
Saat ini, sampel air limbah hasil olahan tersebut telah diajukan untuk uji mutu laboratorium melalui Puskesmas setempat. Langkah ini diambil demi memastikan air buangan benar-benar aman dan memenuhi standar baku mutu lingkungan, sehingga tidak mencemari tanah, merusak tanaman, maupun mengganggu saluran irigasi pertanian masyarakat sekitar.
Langkah kecil dari Desa Jambeyan ini membuktikan bahwa keterbatasan ilmu formal bukan penghalang untuk menjaga bumi—cukup dengan kreativitas, keberanian bereksperimen, dan rasa peduli yang tulus. MI
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....