Tim PKM-KC UMS Inisiasi NECIS, Alat Penghancur Limbah Jarum Suntik Berbasis IOT

  • 31 Jul 2026 20:00 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Tim Program Kreativitas Mahasiswa skema Karsa Cipta (PKM-KC) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) https://www.ums.ac.id/ berhasil mengembangkan inovasi teknologi kesehatan berupa “Needle Crusher Integrated System (NECIS)”, sebuah perangkat penghancur limbah jarum suntik yang berbasis Internet of Things (IoT). Inovasi ini dihadirkan sebagai solusi dari masalah pengelolaan limbah medis Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) infeksius yang masih menjadi masalah di fasilitas kesehatan Indonesia.

Tim pengembang NECIS terdiri dari Daffa Satria Nugraha sebagai ketua, beranggotakan Mahmudah Mufidatul Hasanah, Hengky Boyyanza, Safaila Mefia Zahra, dan Evandra Ardhy Pratama, serta dibimbing oleh Ir. Dedi Ary Prasetya, ST., M.Eng., sebagai dosen pembimbing. Inovasi ini berhasil memperoleh pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melalui program PKM-KC 2026.

Ketua Tim PKM-KC UMS, Daffa Satria Nugraha mengatakan bahwa Limbah jarum suntik dari dunia kesehatan merupakan salah satu jenis limbah medis berisiko tinggi yang setiap tahunnya mencapai sekitar 16 miliar unit secara global. Menurutnya, di Indonesia terdapat keterbatasan fasilitas pengolahan limbah secara mandiri yang menyebabkan banyak institusi kesehatan masih bergantung pada pihak ketiga.

“Kondisi tersebut mengakibatkan penumpukan limbah di lokasi pelayanan medis, sehingga meningkatkan risiko terjadinya Needle Stick Injury (NSI) pada tenaga kesehatan,” ujar Daffa, Jum’at 31 Juli 2026.

Merespon permasalahan tersebut, tim PKM-KC UMS mengembangkan NECIS sebagai sistem terintegrasi yang mampu melakukan penghancuran, sterilisasi, pemisahan, serta pemantauan limbah dalam satu perangkat. Inovasi ini dirancang dengan konsep point-of-care, sehingga limbah jarum suntik dapat langsung dimusnahkan di lokasi pelayanan tanpa perlu menunggu proses distribusi ke fasilitas pengolahan eksternal.

Daffa juga menjelaskan bahwa inovasi ini diangkat dari keterbatasan teknologi konvensional yang masih digunakan di fasilitas kesehatan saat ini.

“Fasilitas kesehatan masih bergantung pada pihak ketiga sehingga limbah jarum suntik sering menumpuk. Di sisi lain, alat seperti needle burner hanya melelehkan ujung logam jarum, sementara bagian plastiknya masih berpotensi membawa patogen. Dari celah inilah NECIS kami kembangkan,” jelas Daffa.

Produk NECIS, alat pengahncur limbah jarum listrik

Daffa mengatakan bahwa NECIS bekerja melalui beberapa tahapan proses terintegrasi. Tahap pertama adalah penghancuran mekanis menggunakan teknologi rotary shredder yang mampu mencacah jarum logam dan tabung plastik secara bersamaan dalam waktu singkat, yakni sekitar 8–10 detik.

“Hasil cacahan berupa serpihan kecil tersebut, kemudian masuk ke tahap sterilisasi menggunakan sinar UV-C untuk menghilangkan kontaminasi patogen,” tambahnya.

Selanjutnya, sistem magnetic segregation secara otomatis memisahkan serpihan logam dan plastik ke dalam wadah berbeda. Pemisahan ini bertujuan untuk memudahkan pengelolaan lanjutan serta mendukung prinsip pengolahan limbah berkelanjutan.

Menurut Daffa, keunggulan NECIS yang dirancang oleh timnya, dilengkapi dengan sistem pemantauan berbasis IoT yang terhubung dengan dashboard web. Fitur ini memungkinkan pihak rumah sakit untuk memantau kapasitas limbah secara real-time, sehingga pengelolaan menjadi lebih efisien dan terkontrol.

Lebih lanjut, dari segi keselamatan, NECIS dirancang dengan sistem tertutup (fully enclosed) untuk mencegah paparan aerosol maupun cairan infeksius selama proses penghancuran dan sterilisasi berlangsung. Hal ini menjadi nilai tambah dalam mendukung aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) bagi tenaga medis.

Daffa berharap agar inovasi NECIS dapat segera diimplementasikan secara luas, sehingga pengelolaan limbah jarum suntik di Rumah Sakit dapat terselesaikan tanpa menunggu pihak ketiga.

“Kami berharap purwarupa NECIS dapat diuji coba di fasilitas kesehatan dan menjadi solusi nyata dalam meningkatkan keamanan pengelolaan limbah jarum suntik sekaligus melindungi tenaga kesehatan dari risiko Needle Stick Injury,” tutupnya. (Edwi/Rill)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....