Peternak Ayam Terjepit Harga Pakan

  • 21 Jul 2026 15:49 WIB
  •  Surakarta

RRI,CO,ID, Surakarta - Bagi peternak ayam petelur, suara ayam di kandang bukan sekadar rutinitas. Di balik riuhnya ribuan ekor ayam, ada perjuangan panjang untuk menjaga usaha tetap hidup, ketika harga telur terus bergerak naik turun, sementara biaya produksi justru semakin tinggi.

Kondisi inilah yang tengah dihadapi Parjuni, peternak ayam yang memiliki usaha di sejumlah wilayah, seperti Karanganyar, Sragen, dan Ngawi. Dengan populasi mencapai sekitar 20 ribu ekor ayam, setiap hari ia harus memastikan kebutuhan pakan tetap terpenuhi, meski harga jual telur belum mampu memberikan keuntungan yang memadai.

Harga telur di tingkat peternak memang mulai membaik. Namun, kenaikan itu belum cukup untuk menutup biaya produksi. Saat ini, harga telur di tingkat peternak wilayah Solo Raya berada di kisaran Rp 22.500 hingga Rp 23.000 per kilogram. "Sementara itu, harga pakan terus meningkat," ujar Parjuni kepada RRI.co.id, Selasa 21 Juli 2026

Sejak Mei, harga pakan disebut naik sekitar 800 hingga seribu rupiah per kilogram. Kenaikan tersebut membuat biaya produksi semakin berat. Dengan harga pakan yang mencapai sekitar Rp7.200 hingga Rp7.500 per kilogram, peternak membutuhkan harga telur setidaknya sekitar Rp24.500 hingga Rp26.000 per kilogram hanya untuk mencapai titik impas.

Artinya, di tengah naik turunnya harga telur, peternak sebenarnya masih berada dalam posisi merugi.

“Ini masih merugi, apalagi ini pakannya naik mulai dari bulan Mei sampai dengan hari ini sudah sekitar Rp800 sampai Rp1.000 per kilogram. Jadi, per saknya sudah naik kira-kira Rp50 ribu. Mungkin akan naik lagi di minggu depan atau awal bulan. Kalau bahan bakunya 60 persen kita masih tergantung dari bahan baku impor," kata dia.

Berbagai cara pun dilakukan untuk bertahan. Selain mengikuti perkembangan pasar, sebagian hasil produksi mulai dijual langsung melalui kios dan jaringan ritel. Langkah ini diharapkan dapat memberikan harga yang lebih baik dibandingkan jika seluruh produksi diserap pedagang besar.

Di sisi lain, kampanye konsumsi ayam dan telur juga terus digencarkan. Sebab, bagi peternak, meningkatkan konsumsi masyarakat menjadi salah satu cara menjaga keseimbangan pasar sekaligus memastikan produk peternakan tetap terserap.

Namun, persoalan peternak bukan hanya soal harga jual. Ketergantungan bahan baku pakan impor juga menjadi tantangan. Sekitar 60 persen bahan baku pakan masih bergantung pada pasokan dari luar negeri. "Ketika pasokan terbatas dan harga bahan baku meningkat, biaya produksi peternak juga ikut terdorong naik," ujar Parjuni.

Parjuni berharap pemerintah lebih serius menjaga keseimbangan antara pasokan dan kebutuhan pasar. Sebab, harga yang terlalu rendah akan membuat peternak merugi dan gulung tikar. Sebaliknya, harga yang terlalu tinggi juga akan membebani masyarakat dan berpotensi menurunkan konsumsi. (Lidia)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....