Ketetapan Harga Anjlok, Peternak Solo Raya Gelar Aksi Mandi Telur di Gladak

  • 07 Jul 2026 15:35 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta – Sekitar seratus peternak unggas petelur dan pedaging yang tergabung dalam Peternak Solo Raya menggelar aksi unjuk rasa di kawasan Gladak, Kota Solo, pada Selasa, 7 Juli 2026. Aksi tersebut diwarnai dengan aksi mandi telur serta pembagian telur dan ayam hidup kepada masyarakat pengguna jalan.

Aksi tersebut merupakan bentuk protes terhadap anjloknya harga ayam dan telur yang dinilai telah membuat peternak merugi selama dua bulan terakhir. Massa aksi berasal dari sejumlah peternak unggas di Solo Raya yang meliputi Boyolali, Klaten, Karanganyar, Sukoharjo, dan Kota Solo.

Mereka membawa sedikitnya 50 kilogram telur serta 80 ekor ayam hidup yang dibagikan kepada masyarakat pengguna jalan. Sebanyak empat kilogram telur digunakan untuk mandi telur sebagai simbol melimpahnya stok yang tidak terserap pasar.

Di sela-sela aksi, salah seorang peserta aksi sekaligus peternak ayam dari Karanganyar, Ardi, rela mengguyurkan telur ke seluruh tubuhnya sebagai bentuk protes atas kondisi yang dialami peternak. Menurutnya, harga telur yang terus merosot membuat para peternak harus menanggung kerugian.

"Harga telur saat ini sudah di bawah HPP (Harga Pokok Produksi), sehingga peternak merugi. Aksi mandi telur ini menjadi simbol bahwa kondisi yang kami alami sudah sangat memprihatinkan," katanya.

Koordinator aksi yang juga Ketua Pinsar Jawa Tengah, Parjuni, mengatakan bahwa aksi mandi telur itu merupakan bentuk protes atas kerugian yang dialami peternak akibat harga jual telur yang terus anjlok. Saat ini, harga ayam hidup hanya berkisar Rp13.000 per kilogram, sedangkan harga telur berada di kisaran Rp17.000 hingga Rp18.000 per kilogram.

Angka tersebut jauh di bawah HPP sehingga peternak mengalami kerugian yang nilainya mencapai ratusan juta hingga miliaran rupiah, terutama bagi peternak berskala besar. Menurut Parjuni, kondisi tersebut dipicu oleh oversupply (kelebihan pasokan) serta melemahnya daya beli masyarakat. Di sisi lain, biaya produksi justru meningkat karena harga pakan naik sekitar 5–7 persen, baik untuk ayam petelur maupun ayam pedaging.

"Kami meminta harga ayam hidup dan telur dijaga agar berada di atas HPP. Untuk telur, HPP saat ini sekitar Rp23.000 per kilogram, sedangkan harga acuan berada di kisaran Rp26.500 per kilo. Adapun HPP ayam pedaging berada pada kisaran Rp19.500 sampai Rp20.000 per kilo," kata Parjuni.

Anggota peternak ayam dan Telur se Solo Raya lakukan aksi bagi bagi telur dan ayam hidup serta jagung di seputaran bundaran Gladag jalan Slamet Riyadi, Solo (Foto; RRI/ SF)

Selain melakukan aksi, para peternak juga menyampaikan beberapa poin tuntutan hukum dan regulasi kepada pemerintah:

Perketat Regulasi Perunggasan: Meminta pemerintah mengendalikan impor grand parent stock (GPS) ayam ras demi menjaga keseimbangan antara suplai dan permintaan berdasarkan data kebutuhan nasional.

Evaluasi Investor: Mengevaluasi masuknya investor di sektor perunggasan agar tidak memicu kelebihan produksi di tingkat peternak mandiri.

Evaluasi Kementerian: Mendesak pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap penanganan sektor peternakan di bawah Kementerian Pertanian.

Pemisahan Sektor: Berharap pemerintah membentuk Kementerian Peternakan tersendiri agar penanganannya lebih fokus. (SF)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....