Kisah Pasutri Pedagang Sayur di Sragen Berangkat Haji dari Tabungan 20 Ribu Sehari
- 18 Mei 2026 10:02 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, SRAGEN – Di sudut sebuah rumah di Dukuh Jetak Kidul, Desa Jetak, Kecamatan Sidoharjo, Sragen, raut bahagia sekaligus haru tidak bisa disembunyikan dari wajah Sutarno Martoijoyo (61) dan Samini Surono (56). Pasangan suami istri (pasutri) yang sehari-harinya menyambung hidup sebagai pedagang sayur ini akhirnya menyaksikan impian terbesar mereka menjadi nyata: menginjakkan kaki di Baitullah.
Setelah menanti dan berjuang selama belasan tahun, pasutri bersahaja ini resmi diberangkatkan ke Tanah Suci pada 13 Mei 2026 lalu, tergabung dalam kelompok terbang (kloter) 66.
Bagi Samini dan Sutarno, perjalanan menuju Mekkah bukanlah tentang kekayaan yang melimpah, melainkan tentang keteguhan niat dan konsistensi. Niat untuk menyempurnakan rukun Islam kelima itu sudah tertanam kuat di hati Samini sejak 14 tahun silam, tepatnya pada tahun 2012.
Namun, mereka sadar, niat tanpa ikhtiar nyata hanyalah angan-angan. Di tengah keterbatasan ekonomi, pasutri ini memutuskan untuk menyisihkan uang sedikit demi sedikit. Setiap hari, dari hasil peluh menjajakan sayur-mayur, Samini dengan disiplin menyisihkan uang sebesar Rp 20.000 ke dalam tabungan bank.
"Uangnya dari menabung, sedikit demi sedikit dari keuntungan sekira Rp 20 ribu per hari ditabung sampai berapa tahun gak dihitung," kenang Samini dengan mata berkaca-kaca saat ditemui sebelum keberangkatannya.
Langkah demi langkah kecil itu akhirnya membuahkan hasil. Ketika uang hasil jerih payahnya terkumpul sebanyak Rp 25 juta, Samini langsung menggunakannya sebagai dana talangan awal untuk mendaftar haji.
Setelah mendapat porsi, semangatnya justru kian berlipat ganda. Mereka kembali menabung dengan konsisten hingga seluruh biaya pelunasan haji terpenuhi.
Bagi mereka, keberangkatan tahun 2026 ini adalah keajaiban yang nyata sebuah panggilan pertama seumur hidup yang dipenuhi rasa syukur luar biasa. Tidak ada persiapan mewah yang mereka bawa, melainkan kesiapan fisik dan kelapangan hati.
"Persiapan yang dilakukan (saya dan suami) yaitu kesehatan, kesabaran, hingga memberikan semangat terhadap diri sendiri," tutur Samini.
Saat melepas keberangkatan, rasa haru campur bahagia membuncah di dada pasutri ini. Air mata syukur menetes mengiringi doa-doa yang mereka langitkan agar perjalanan ibadah mereka diberikan kemudahan.
"Saya senang terharu, Ya Allah saya bisa memenuhi rukun Islam kelima. Semoga diberikan kelancaran, kesehatan, dan keselamatan," ucap Samini tulus.
Kisah Sutarno dan Samini menjadi bukti hidup bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang untuk bertamu ke rumah Allah. Lewat ketekunan uang Rp 20 ribu per hari, pasutri pedagang sayur dari Jetak ini sukses menjemput impian suci mereka menuju Baitullah. MI
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....