Kisah Mbah Hadi dan 'Glendoh', Sapi Raksasa Sragen yang Memikat Hati Presiden Prabowo

  • 17 Mei 2026 12:23 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Sragen - Di usianya yang telah menginjak 84 tahun, langkah kaki Mbah Hadi Sumanto mungkin tak selincah dulu. Namun, siapa sangka dari tangan dingin kakek sepuh asal Dukuh Tugu, Desa Tangkil, Kecamatan Sragen ini, lahir seekor "monster" jinak berbobot nyaris 1 ton yang berhasil memikat hati orang nomor satu di Indonesia, Presiden Prabowo Subianto.

Sapi berjenis Limosin Cross seberat 950 kilogram yang diberi nama Glendoh tersebut, kini resmi dipinang oleh Presiden untuk dijadikan hewan kurban pada Hari Raya Idul Adha mendatang. Bagi Mbah Hadi, kabar bahagianya ini bak durian runtuh sekaligus sebuah kelegaan besar. Merawat sapi dengan porsi raksasa di usia senja diakuinya mulai menguras energi fisik yang tak lagi muda.

"Ya ceritanya saya tidak tahu (pasti), ini yang mengurus anak cucu saya. Katanya dibeli Pak Prabowo. Saya yang merawat tentu senang sekali, apalagi saya sudah tua, sudah capek," tutur Mbah Hadi dengan senyum penuh rasa syukur saat ditemui di kediamannya baru-baru ini.

Glendoh yang kini berusia 3,5 tahun itu akhirnya dilepas dengan harga fantastis, Rp 80 juta. Nilai yang sepadan untuk ketelatenan Mbah Hadi yang merawatnya seperti anak sendiri. Melejitkan bobot sapi hingga hampir 1.000 kilogram tentu bukan perkara mudah. Mbah Hadi membeberkan rahasia "dapur" kedisiplinannya dalam memberi makan Glendoh.

Sapi raksasa ini wajib makan dua kali sehari, pagi dan sore. Selain rumput segar dan jerami padi (dami)) sebagai menu wajib, kunci pendongkrak bobot Glendoh ada pada racikan komboran rutin seharga Rp 25 ribu per hari. "Pakai komboran dua kali sehari, kita beri nutrivit, polar, ampas pohong, dan katul, tambah damen suket," ucapnya.," ucap dia.

Di balik terpilihnya Glendoh, ada proses seleksi ketat yang melibatkan birokrasi dan teknologi. Plt Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan Kabupaten Sragen, Suparno, mengungkapkan bahwa pencarian ini bermula dari instruksi Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Jawa Tengah.

Informasi tersebut kemudian disebar ke jaringan mantri hewan se-Sragen. Setelah menyisir beberapa kandidat dan melakukan verifikasi langsung di lapangan, pilihan jatuh pada Glendoh milik Mbah Hadi. Tak berhenti di situ, Glendoh bahkan harus melalui tahapan "audisi virtual" alias Zoom Meeting bersama pihak Sekretariat Negara (Setneg) untuk melihat kondisi fisik secara langsung sebelum akhirnya dinyatakan deal.

"Kita disuruh mencarikan sapi yang besar, kalau bisa yang paling besar di Kabupaten Sragen, dan yang memenuhi syarat untuk kurban," kata Suparno menjelaskan.

Meski mengeluh lelah, jiwa peternak Mbah Hadi tampaknya sudah mendarah daging. Uang hasil penjualan Glendoh senilai Rp 80 juta tersebut tidak akan dihambur-hamburkan, melainkan diputar kembali untuk membeli bibit sapi baru.

"Ya mungkin dibelikan lagi. Ini sudah lihat-lihat, ada sapi harga Rp 28 juta, ada juga yang ditawarkan Rp 27,5 juta," katanya bersemangat.

Rencananya, Glendoh akan dikirim mendekati hari H Idul Adha menuju sebuah masjid di kawasan Sangiran, Sragen, untuk ditunaikan sebagai hewan kurban. Mbah Hadi menyelipkan sebuah harapan sederhana kepada Presiden Prabowo. Ia berharap ada perhatian untuk fasilitas kandangnya yang saat ini dirasa kurang layak untuk memelihara sapi-sapi berkualitas tinggi.

"Saya minta supaya dikasih tempat (kandang). Tempat yang sekarang tidak memenuhi syarat. Saya minta ke Pak Prabowo kalau boleh, supaya tahun depan bisa tetap memelihara hewan lagi," ucap Mbah Hadi penuh harap. MI

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....