Kyai Iman Khotib, Ulama Penjaga Spiritualitas dari Jatisobo, Makamnya Selalu Ramai

  • 16 Apr 2026 18:54 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Di balik suasana tenang Desa Jatisobo, Polokarto, Sukoharjo, tersimpan jejak panjang sejarah penyebaran Islam yang berkaitan erat dengan perjalanan Keraton Surakarta. Sosok Kyai Iman Khotib menjadi figur penting yang hingga kini dikenang sebagai penjaga spiritual masyarakat dan keraton pada masanya.

Keberadaan Kyai Iman Khotib tidak dapat dilepaskan dari era pemerintahan Pakubuwono II, terutama saat perpindahan pusat kekuasaan dari Kartasura ke Surakarta pasca peristiwa Geger Pecinan. Dalam masa transisi itu, peran ulama menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas spiritual masyarakat.

Keturunan ke-7 Kyai Iman Khotib, Danang Tri Mulyatno mengatakan, penelusuran sejarah menunjukkan adanya keterkaitan kuat antara Kyai Iman Khotib dengan pusat-pusat keilmuan Islam di Jawa Timur.

“Berdasarkan koordinasi dengan pemerhati budaya, ditemukan jejak beliau di Kediri dan Ponorogo. Dari dokumen yang ada, Kyai Iman Khotib di Jatisobo ini merupakan generasi ketiga dari garis nama tersebut,” kata Danang Tri Mulyatno, ditemui RRI belum lama ini.

Menurutnya, silsilah tersebut merujuk pada Kyai Khotib Imam dari Tegalsari, Ponorogo, yang dikenal sebagai pusat pendidikan Islam pada masa itu. Dari garis keturunan itu, muncul sosok Kyai Abdullah yang kemudian menetap di Jatisobo dan melanjutkan dakwah.

Jejak fisik keberadaan Kyai Iman Khotib masih dapat dilihat hingga kini melalui Masjid Jatisobo. Bangunan tersebut tetap berdiri dengan mempertahankan sebagian besar struktur aslinya meski telah mengalami renovasi.

“Tiang-tiang joglonya, mimbar, beduk, hingga sumur tua masih asli dari masa itu. Struktur masjidnya diperkirakan masih sekitar 90 persen mempertahankan bentuk awal,” ujarnya.

Selain masjid, terdapat pula bangunan rumah limasan di sekitar lokasi yang dipercaya sebagai tempat tinggal Kyai Iman Khotib. Rumah tersebut masih dirawat oleh keturunan, meski tidak lagi digunakan sebagai hunian utama.

Danang menyebut, salah satu hal yang masih menjadi misteri adalah keberadaan pondok pesantren yang dahulu didirikan. Ia menilai, ada kemungkinan bagian sejarah tersebut belum sepenuhnya terungkap.

“Kami para keturunannya mencurigai ada bagian sejarah yang seolah disembunyikan. Jejak fisik pesantren itu tidak ditemukan lagi, padahal beliau dikenal sebagai ulama besar,” katanya.

Meski demikian, daya tarik spiritual Kyai Iman Khotib tetap terasa hingga kini. Masjid Jatisobo tidak pernah sepi dari peziarah, terutama pada malam-malam tertentu yang dimanfaatkan untuk berdoa dan tirakat.

Puncak kegiatan biasanya terjadi pada bulan Ruwah dalam kalender Jawa, saat tradisi ziarah dan haul digelar. Ribuan jamaah dari berbagai daerah datang untuk mengenang jasa sang ulama sekaligus mengambil nilai spiritual dari tempat tersebut.

Kini, kawasan masjid dan makam Kyai Iman Khotib telah ditetapkan sebagai cagar budaya. Keberadaannya tidak hanya menjadi simbol sejarah, tetapi juga pengingat akan peran ulama dalam membangun peradaban Islam di wilayah Solo Raya. (MI/Diqi)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....