Jejak Sejarah Legiun Mangkunegaran, Pasukan Elite Pura Mangkunegaran Solo

  • 03 Mar 2026 14:45 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Pura Mangkunegaran Solo yang masih berdiri kokoh, mencatat berbagai sejarah penting mewarnai perjalanan bangsa Indonesia. Tak hanya sebagai salah satu sumber budaya Jawa yang masih lestari sampai sekarang, juga dikenal memiliki pasukan tempur yang tangguh, Legiun Mangkunegaran. Nama Legiun mengadopsi organisasi militer Prancis, yang pada tahun 1808-1811 pernah menguasai Jawa di bawah kekuasaan Napoleon Bonaparte.

Abdi Dalem Mangkunegaran Mas Ngabehi Edi Sulistyono menceritakan, legiun Mangkunegaran adalah korps pasukan elite angkatan bersenjata Kadipaten Mangkunegaran yang dibentuk tahun 1808 pada zaman Mangkunegara (MN) II bertahta. Namun cikal bakal Legiun ini adalah anggota pasukan yang memberontak pada VOC, yang dipimpin oleh Pangeran Sambernyowo.

“Prajurit punggawa sekawan dasa daya. itulah yg merupakan bekal RM Said berjuang merebut kemerdekaan Mangkunegaran. Akhirnya dalam perjanjian Salatiga 1757, di dusun Kalicacing itu anatra RM Said dan pendereknya kemudian Gubernur Jenderal Hartingh dan. Paku Buwono III, itu maka terbentuklah Pura Mangkunegaran dengan simbol-simbol kaprajurit diantaranya mahkota Kadipaten menisbatkan bermakna Adipati Karno, simbol kaprajuritan, kata Ki Ngabehi Edi kepada rri.co.id Selasa 3 Maret 2024 di RRI Surakarta.

Menurutnya, oleh Hindia Belanda (sebutan kolonial untuk wilayah Nusantara) dibentuk prajurit Legiun Mangkunegaran. Berguna membantu pemerintah Belanda menghadapi serangan Inggris yang dipimpin Jenderal Lord Minto yang saat itu sudah berada di Hindia Batavia. Gubernur Jenderal Daendels membutuhkan bantuan prajurit dan kerajaan-kerajaan di 4 Karaton termasuk Mangkunegara II dibentuklah Legiun Mangkunegaran.

“ Pasukan Mangkunegaran ini mendapat beragam pelatihan dari instruktur Prancis, Inggris dan juga Belanda di sekolah kemiliteran Soldat Sekul. Satuan elite ini dilatih untuk mahir menggunakan berbagai senjata tajam berupa keris dan pedang. Juga dituntut untuk piawai menggunakan tombak, sumpit dan panah serta senjata api maupun artileri (meriam), “ ungkap Ki Edi yang juga dikenal sebagai dalang.

Dari segi visual seragam cukup artistik dengan mengadopsi busana Eropa. Mengenakan topi syako, jas berwarna hitam yang pendek di muka, sementara di belakang memakai kencer dan bercelana putih.

Pasukan Elite Legiun Mangkunegara berfoto di Depan Pendapa Pura Mangkunegaran Solo ( Foto : Dok/Pinterest)

Pasukan ini juga dilatih untuk mempunyai mobilitas tinggi dengan menggunakan kuda. Sehingga unsur infanteri, kavaleri dan artileri tergabung di dalamnya. Legiun Mangkunegaran menjadi pasukan yang tangguh dan profesional yang bisa disewa siapapaun, termasuk oleh Belanda.

“Itulah terus menerus akhirnya Legiun Mangkunegaran menjadi prajurit yang siap digunakan siapa saja. Menjadi crew prajurit profesional yang pertama di Nusantara ini ya prajurit Legiun Mangkunegaran. Semakin meningkat di jaman MN IV. Setiap Adipati MN itu pasti komendan Legiun MN. Penghormatan Belanda sangat salut terhadap legiun Mangkunegaran,” kata Edi Sulistyono lebih lanjut.

Pasukan elit tersebut tersebut mampu bertahan sampai pada masa kekuasaan Mangkunegara VII. Saat Jepang berkuasa 1942, Legiun Mangkunegaran dilucuti kekuatan militernya. Lalu pasukan yang terlatih dengan kurikulum Eropa ini beralih fungsi sebagai abdi dalem penjaga istana Mangkunegaran.

Pasukan ini tidak dapat dikatakan sebagai pahlawan maupun pengkhianat bangsa, karena Legiun bekerja berdasarkan profesionalitasnya. Hal yang ditanamkan pada Legiun adalah patuh kepada perintah pimpinan, rasa kesetiakawanan terhadap sesama anggota dan nasionalisme terhadap tanah di mana Legiun tersebut berada yaitu Kadipaten Mangkunegaran. ( Wida )

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....