Sumur Tua Jatisobo, Jejak Spiritual Kyai Iman Khotib yang Tak Pernah Kering
- 16 Apr 2026 18:48 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta - Desa Jatisobo di wilayah Polokarto, Sukoharjo, menyimpan jejak panjang peradaban santri yang bermula dari pembukaan hutan oleh seorang ulama, Kyai Iman Khotib. Hingga kini, jejak itu masih terasa melalui keberadaan sumur tua yang diyakini tak pernah kering sepanjang masa.
Perkampungan Jatisobo berawal dari babat alas yang dilakukan Kyai Iman Khotib pada masa pemerintahan Pakubuwono II. Dengan izin dari keraton, kawasan hutan jati dibuka untuk dijadikan tempat tinggal sekaligus pusat pendidikan bagi para santri.
Keturunan ke-7 Kyai Iman Khotib, Danang Tri Mulyatno mengatakan, proses pembukaan wilayah tersebut dilakukan dengan laku spiritual yang kuat. Ia menyebut, pendirian perkampungan bukan semata untuk pemukiman, tetapi juga sebagai pusat dakwah Islam.
“Beliau memohon izin kepada Sinuhun Pakubuwono II untuk membuka hutan ini. Bersama santri-santrinya, beliau melakukan tirakat dan prihatin untuk membangun sebuah pemukiman baru,” kata Danang Tri Mulyatno belum lama ini.
Salah satu hal yang menjadi perhatian utama Kyai Iman Khotib dalam membangun peradaban di Jatisobo adalah keberadaan sumber air. Sumur menjadi fondasi awal sebelum pembangunan fasilitas lain seperti masjid dan pondok pesantren.
“Sumber air adalah sumber kehidupan. Itu digunakan untuk menopang kehidupan sehari-hari, tempat berwudhu, dan bersuci,” ujarnya, ditemui RRI belum lama ini.
Menurut Danang, sumur yang dibuat ratusan tahun lalu tersebut masih bertahan hingga kini dan tidak pernah kering meski musim kemarau panjang. Airnya tetap jernih dan bahkan dipercaya memiliki kualitas yang baik.
Ia menuturkan, ada kisah seorang dokter spesialis penyakit dalam yang pernah menyarankan pasiennya untuk memanfaatkan air dari sumur tersebut. Air itu disebut tetap jernih meski disimpan dalam waktu lama.
“Airnya jika disimpan di botol berbulan-bulan, bahkan tahunan, tidak berubah warnanya dan tidak berlumut. Insya Allah, airnya sangat bersih dan menyehatkan,” ujarnya.
Selain dikenal melalui sumur tua, kawasan Jatisobo juga memiliki status istimewa pada masa lampau. Wilayah tersebut pernah ditetapkan sebagai tanah perdikan oleh Pakubuwono IV, sebagai bentuk penghormatan terhadap peran Kyai Iman Khotib.
Danang menyebut, kedekatan Kyai Iman Khotib dengan keraton juga terlihat dari perannya dalam bidang keagamaan. Ia bahkan dipercaya menjadi rujukan bagi raja dalam urusan spiritual.
“Bahkan sehari-hari, Sinuhun PB IV sering berkonsultasi berkaitan dengan keagamaan kepada Kyai Iman Khotib. Beliau kemudian diangkat menjadi Penghulu Keraton,” ujarnya.
Hingga kini, keberadaan sumur tua dan masjid di Jatisobo masih menjadi bagian penting kehidupan masyarakat. Keduanya menjadi simbol bahwa warisan spiritual dan nilai-nilai keislaman yang dibangun Kyai Iman Khotib terus hidup dan mengalir di tengah masyarakat. (MI/Diqi)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....