Keutamaan Tarawih di Masjid dan Keringanan bagi yang Memiliki Uzur

  • 26 Feb 2026 14:48 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID., Surakarta - Di awal Ramadan, masjid ramai dipenuhi jamaah tarawih. Namun seiring hari berjalan, jumlahnya mulai menurun. Fenomena ini menunjukkan bahwa semangat awal saja tidak cukup; konsistensi ibadah tetap menjadi kunci agar ibadah bermakna.

Duwi Wija (21), mahasiswa yang juga bekerja part-time, mengaku sesekali beribadah, karena kesibukan kegiatannya. "Tarawih tahun ini baru sekali ikut karena pulang sore dan badan capek. Jadi aku lebih pilih fleksibel saja, sholat di rumah," ucapnya kepada RRI Surakarta, Rabu, 26 Februari 2026. Pengalaman Duwi menunjukkan bagaimana kesibukan dapat memengaruhi kehadiran di masjid tanpa mengurangi nilai ibadah.

Sementara Nurida (28) menambahkan bahwa kegiatan sosial dan pekerjaan kadang membatasi kehadiran di masjid. "Kadang ada buka bersama sama teman, kadang juga harus kerja. Tahun lalu aku sekitar 10-12 kali ke masjid untuk teraweh. Semoga tahun ini masih bisa lebih sering ikut tarawih di masjid," ucapnya.

Aldi Rehans (22), salah satu mahasiswa di Solo, memberi contoh bagaimana menyeimbangkan niat dan kondisi tubuh. "Kalau lagi sakit atau cuaca hujan deras, aku tidak teraweh di masjid. Tapi aku tetap sholat shubuh, maghrib, dan isya di masjid. Abis buka puasa langsung ke masjid buat maghrib, terus nunggu isya dan teraweh. Dari awal puasa sampai sekarang, baru satu kali aku tidak ikut teraweh. Kalau dalam 30 hari, mungkin antara 27 - 28 hari aku terawih di masjid," ujarnya.

Keutamaan Tarawih & Fleksibilitas Menurut Ustadz Achmad Choerudin

Ustadz Achmad Choerudin saat dihubungi RRI Surakarta pada Kamis, 26 Februari 2026 menjelaskan bahwa tarawih berjamaah di masjid lebih utama selama tidak ada halangan syar’i. "Rasulullah SAW pernah shalat tarawih berjamaah bersama para sahabat. Pada masa Khalifah Umar bin Khattab, tarawih dikumpulkan dalam satu imam dan menjadi syiar yang terus hidup hingga kini," ucapnya. Dalam hadits riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi disebutkan, "Siapa yang shalat bersama imam hingga selesai, maka dicatat baginya pahala seperti shalat semalam penuh," ujarnya

Ustadz Achmad menambahkan, jika ada uzur, seperti sakit, hujan deras, atau harus menjaga keluarga, maka shalat tarawih di rumah tetap sah dan berpahala. Prinsip utama dalam Islam adalah kemudahan dan tidak membahayakan diri. Menurutnya, tarawih di masjid menumbuhkan ukhuwah, menambah kekhusyukan, dan memotivasi konsistensi, tetapi menyesuaikan ibadah dengan kondisi tetap diperbolehkan.

"Masjid ramai di awal Ramadan menunjukkan antusiasme jamaah, sementara konsistensi dan menyesuaikan kondisi menjadi kunci agar ibadah tetap bernilai. Tarawih di masjid lebih utama karena nilai jamaah dan syiar yang lebih besar, sedangkan menunaikan tarawih di rumah tetap sah bagi mereka yang memiliki uzur atau kesibukan tertentu," kata Ustadz Achmad (DR).

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....