Masjid Abdul Djalal, Jejak Dakwah Islam di Solo Utara Warisan Raja Pakubuwono IV
- 04 Mar 2026 13:25 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Sragen - Di balik rimbunnya wilayah perbatasan Solo Utara dan Purwodadi, tepatnya di Dukuh Kaliyoso Jogopaten, Desa Jetiskarangpung, Kalijambe, Sragen, berdiri kokoh sebuah bangunan yang menjadi saksi bisu sejarah penyebaran Islam.
Masjid Jami’ Kyai Abdul Djalal bukan sekadar tempat ibadah, melainkan simbol hubungan harmonis antara ulama dan umara (pemimpin) pada masa Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
Sejarah masjid ini bermula pada tahun 1790 Masehi. Kala itu, Sri Susuhunan Pakubuwono (PB) IV, Raja Keraton Surakarta yang dikenal religius, sedang melakukan perburuan kijang di Hutan Krendowahono (sebuah kawasan yang dikenal angker dan lebat pada masanya). Namun, di tengah perburuan, sang Raja terpisah dari pengawalnya dan menghilang.
Kecemasan melanda pihak Keraton. Para pengageng kemudian meminta bantuan kepada seorang pemuda alim bernama Bagus Turmudzi, yang saat itu mengelola sebuah langgar kecil di wilayah tersebut. Bersama keponakannya, Bagus Murtoyo, Bagus Turmudzi berhasil menemukan PB IV dalam kondisi sehat walafiat.
Sebagai wujud syukur dan rasa terima kasih yang mendalam, PB IV memberikan hadiah berupa Tanah Perdikan (wilayah otonom yang dibebaskan dari pajak kerajaan) agar fokus pada pengembangan agama Islam. Tak hanya itu, sang raja juga memperluas langgar atau musholla yang dikelola Bagus Turmudzi menjadi masjid besar lengkap dengan serambinya. Bagus Turmudzi dianugerahi gelar Kyai Abdul Djalal.
“Beliau (PB IV) menghadiahkan tanah secukupnya pengembangan ajaran Islam. PB IV juga memberikan pusaka berupa tombak dan keris, sebuah mimbar, sebuah pintu. Sampai sekarang semuanya masih terawat dan tersimpan di dalam masjid,” terang Ketua Takmir Masjid Jami’ Kyai Abdul Djalal, M. Rofchan beberapa waktu lalu.

Masjid ini memiliki keunikan yang jarang ditemukan di masjid modern. Di dalam salah satu saka guru (tiang utama) dekat mimbar, tersimpan pusaka berupa tombak dan trisula pemberian langsung dari PB IV.
Meskipun salah satu pusaka sempat hilang pada masa pemugaran tahun 1950, benda-benda lainnya seperti mimbar asli dan pintu kuno masih terawat dengan sangat baik.
Secara arsitektur, masjid ini telah ditetapkan sebagai Benda Cagar Budaya (BCB) oleh Disdikbud Sragen pada tahun 2015. Meski sudah berusia lebih dari 230 tahun, struktur utamanya tetap dipertahankan.
Beberapa detail unik meliputi beduk terbuat dari satu batang kayu utuh tanpa sambungan. Kemudian struktur saka guru atau tiang-tiang kayu jati yang tetap kokoh menyangga atap bangunan.
Hanya komponen kecil seperti kusen dan jendela yang diganti demi keamanan, tanpa mengubah fasad asli.
Menjadi Pusat Syiar di "Hutan Belantara"
Kyai Abdul Djalal tidak hanya menerima hadiah, tetapi juga memegang amanah besar dari PB IV untuk menyebarkan ajaran Islam di wilayah Utara. Dahulu, Kaliyoso adalah hutan belantara dengan penduduk yang mayoritas belum memeluk Islam.
Kyai Abdul Djalal menempuh perjalanan melalui jalur sungai untuk menjangkau masyarakat dan perlahan mengubah Kaliyoso menjadi "Pusat Literasi Islam" di wilayah Sragen. Hingga kini, masjid ini tidak pernah sepi.
“Saat itu, Pardikan Kaliyoso masih berupa hutan belantara dan belum banyak warga yang beragama Islam. Beliau sampai di sini setelah menempuh perjalanan melalui sungai,” ujar Rofchan.
Terletak berdampingan dengan Pondok Pesantren Madrasah Diniyah, kompleks masjid ini menjadi magnet bagi para peziarah, terutama menjelang bulan Ramadan (Bulan Ruwah). Peziarah datang dari berbagai kota seperti Jakarta, Yogyakarta, hingga Jawa Timur untuk mendoakan Kyai Abdul Djalal yang dimakamkan di sisi barat masjid.
"Paling ramai sebelum Ramadan atau bulan Ruwah (penanggalan Jawa). Kebanyakan dari kalangan santri. Ada juga yang dari Jakarta, Jogja, Semarang, dan kota-kota lainnya,” ucap Rofchan.
Di bulan suci Ramadan, Masjid Jami’ Kyai Abdul Djalal semakin hidup dengan berbagai kegiatan, Tafsir Al-Qur'an, Kajian mendalam mengenai ayat-ayat suci. Tadarus dan kultum dilaksanakan setelah salat Duhur dan Tarawih.
Pendidikan Al-Qur'an bagi anak-anak sekitar agar tongkat estafet dakwah terus bersambung. Tradisi kemasyarakatan yang mempererat silaturahmi warga Kaliyoso dengan buka bersama..
Masjid ini menjadi pengingat bahwa dakwah Islam di tanah Jawa seringkali lahir dari pertemuan antara ketulusan ulama dan kebijaksanaan seorang pemimpin, menciptakan warisan yang abadi melampaui waktu. MI
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....