Merajut Kreativitas, Mengembangkan UMKM melalui Karya Busana Lokal
- 29 Sep 2026 11:11 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta - Kreativitas menjadi salah satu modal penting bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk terus berkembang. Hal itu pula yang dilakukan Fransisca Muridianingrum, pelaku usaha busana lokal yang mengembangkan kreativitas melalui karya busana berbahan batik sekaligus membuka peluang produksi bagi pelaku UMKM lainnya.
Sisca mengaku mulai kembali menekuni dunia jahit dan busana setelah sebelumnya menjalankan usaha di bidang lain. Ketertarikannya pada fashion kemudian diarahkan pada pengembangan busana berbahan batik dengan desain yang menyasar generasi muda.
“Karena saya punya talenta jahit, saya punya talenta untuk desain. Saya berpikir, bagusnya batik ini kayak gini,” ujar Sisca.
Dalam mengembangkan produknya, Siska tidak hanya mengandalkan kemampuan menjahit, tetapi juga berusaha menghadirkan desain yang memiliki ciri khas. Salah satunya dengan membuat busana dalam jumlah terbatas sehingga konsumen tidak mudah menemukan produk dengan model yang sama.
“Model saya itu cuma satu, enggak ada kembarannya. Untuk yang di Selasar Ngarsopuro itu juga enggak ada kembarannya,” katanya.
Siska saat ini memproduksi berbagai busana seperti kemeja, celana, rok, hingga aksesori berbahan batik. Proses produksi dilakukan sendiri, mulai dari membuat pola, memotong kain hingga menjahit. Selain menghasilkan produk untuk konsumennya sendiri, ia juga menerima pesanan dari pelaku UMKM lain yang membutuhkan produksi dalam jumlah kecil.
Menurutnya, layanan produksi dalam jumlah kecil menjadi salah satu cara untuk membantu UMKM yang memiliki keterbatasan modal. Pelaku usaha tidak harus memesan dalam jumlah besar karena dapat memulai dengan membuat beberapa sampel produk terlebih dahulu.
“Kami melayani untuk partai kecil, untuk UMKM yang mungkin modalnya tipis. Enggak apa-apa mau bikin sampel dulu. Bikin empat dulu, bikin topi, baju, aksesori seperti dompet atau apa, semua saya buat,” ucapnya.
Konsep tersebut sekaligus menjadi bentuk kolaborasi antarpelaku UMKM. Sisca memilih tetap memberikan harga yang terjangkau bagi pelaku usaha yang baru mencoba memasarkan produknya. Baginya, keuntungan tidak harus besar pada tahap awal, selama kerja sama dapat terus berjalan dan membuka peluang pemesanan berikutnya.
Kreativitas Sisca juga terlihat dari pemanfaatan sisa kain batik menjadi berbagai aksesori. Potongan kain yang tersisa dari proses produksi dapat diolah menjadi gelang, bando, ikat rambut, hingga aksesori lainnya. Dengan cara tersebut, bahan yang tersisa tetap memiliki nilai ekonomi dan dapat menghasilkan produk baru.
“Dari limbah-limbah batik saya, saya gunakan. Jadi kalau di sana kita harus kreatif, enggak melulu baju aja. Harus ada aksesori atau apa, jadi harus ada perkembangan,” katanya.
Untuk memperluas pemasaran, Sisca memanfaatkan berbagai platform digital seperti Instagram, Shopee, TikTok, Facebook, serta WhatsApp. Ia juga mengembangkan sistem pre-order dan bekerja sama dengan reseller dari sejumlah daerah, termasuk Jakarta, Bandung, Depok, hingga daerah lainnya.
Keberadaan reseller menjadi bagian penting dalam pemasaran produknya karena Siska dapat lebih fokus pada produksi dan pengembangan desain. Ia juga memberikan ruang bagi reseller untuk memperoleh keuntungan dari penjualan kembali produk.
Di sisi lain, Sisca terus melakukan inovasi dengan menerima pesanan custom. Konsumen maupun pelaku UMKM dapat membawa kain sendiri dan meminta dibuatkan model busana sesuai keinginan. Pola kerja tersebut membuka peluang kolaborasi sekaligus memberikan keleluasaan bagi pelanggan untuk mendapatkan produk yang lebih personal.
Sisca berharap generasi muda semakin tertarik dan mencintai batik sebagai bagian dari budaya lokal. Ia juga mengajak masyarakat mendukung UMKM Indonesia dengan membeli produk lokal. (Khodijah Gadis Arivia - UIN Raden Mas Said Surakarta, Magang RRI/Nuri)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....