Kunci UMKM Bertahan di Era Digital: Bukan Viral, tapi Otentik

  • 21 Jul 2026 04:19 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta — Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara pelaku usaha memasarkan produk sekaligus menjangkau konsumen. Namun, di tengah persaingan yang semakin ketat, keberhasilan bisnis dinilai tidak cukup hanya dengan hadir di media sosial atau marketplace, melainkan harus dibarengi strategi pemasaran yang tepat.

Hal tersebut disampaikan pengusaha muda Alif Danan Faathir dalam program Beranda Asta Cita RRI Surakarta pada Jumat, 17 Juli 2026 bertema "Strategi Pemasaran Modern di Era Digital".

Menurut Alif, hampir seluruh aktivitas bisnis saat ini telah memasuki ranah digital, mulai dari promosi melalui WhatsApp, media sosial, hingga transaksi menggunakan QRIS dan marketplace.

"Masyarakat sekarang itu semuanya memang sudah digital. Pakai grup WhatsApp saja sudah dikatakan digital, apalagi yang punya marketplace atau live TikTok," ujarnya.

Pendiri Rumah Ampyang itu menjelaskan, digitalisasi membuka peluang pasar yang jauh lebih luas dibandingkan pemasaran secara konvensional. Berkat pemanfaatan platform digital, produk Ampyang Jawa yang diproduksinya kini berhasil menembus pasar ekspor ke sejumlah negara.

"Dari online itulah kita justru dapat buyer. Kalau pakai digitalisasi, pasar kita bukan cuma Solo Raya, tapi bisa seluruh Indonesia sampai luar negeri," katanya.

Meski demikian, Alif mengingatkan bahwa pemasaran digital bukan berarti harus selalu mengejar konten yang viral. Menurutnya, popularitas di media sosial hanya bersifat sementara jika tidak diimbangi kualitas produk dan identitas usaha yang kuat.

"Viral itu sesaat saja. Yang paling penting kembali ke personal branding, kualitas produk, dan akhirnya menjadi produk yang legend," jelasnya.

Ia juga menilai pendekatan soft selling lebih efektif dibandingkan sekadar menawarkan produk secara langsung. Di Rumah Ampyang, setiap siaran langsung di media sosial selalu disertai edukasi mengenai proses pembuatan produk sehingga penonton memperoleh manfaat, meski belum tentu langsung membeli.

"Kalau kita digital marketing itu yang penting konsepnya. Kita jualan, tapi ada edukasinya. Kalau tidak beli tidak apa-apa, yang penting kita sudah memberi ilmu," ujarnya.

Dalam menjaga kepercayaan pelanggan, Alif memilih mengembangkan akun media sosial secara organik tanpa membeli pengikut maupun ulasan palsu. Ia meyakini cara tersebut lebih mampu membangun hubungan jangka panjang dengan konsumen.

Selain itu, pelayanan juga menjadi faktor penting untuk mempertahankan pelanggan. Rumah Ampyang menerapkan budaya pelayanan, menjaga kualitas produk, menyediakan pembayaran digital, hingga memberikan garansi penggantian apabila produk mengalami kerusakan saat pengiriman.

Menanggapi perkembangan kecerdasan buatan (AI), Alif mengakui teknologi tersebut cukup membantu, terutama untuk kebutuhan administratif seperti membalas pesan pelanggan dan menyusun materi presentasi. Namun, ia masih mengutamakan kreativitas manusia dalam pembuatan konten visual agar hasilnya lebih natural.

Menutup perbincangan, Alif berpesan agar pelaku UMKM tidak ragu memulai usaha dan terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi.

"Jalani saja dulu. Ikuti perkembangan zaman. Yang penting kita punya ciri khas, punya value, dan produk yang berkualitas. Insyaallah nanti jalan sendiri menjadi produk yang legend," kata Alif.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....