Harga Telur Ayam di Sragen Anjlok hingga 19.000, Peternak Menjerit, UMKM Sumringah

  • 07 Jul 2026 14:03 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, SRAGEN — Kabar kurang sedap datang dari sektor peternakan di Kabupaten Sragen. Memasuki awal Juli 2026, harga telur ayam ras mengalami penurunan drastis hingga menyentuh angka Rp19.000 per kilogram di tingkat peternak.

Fenomena ini bak pisau bermata dua. Kondisi ini menjadi pukulan telak bagi para peternak. Namun di sisi lain menjadi angin segar bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Berdasarkan pantauan Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskumindag) Sragen, harga telur di tingkat pedagang pasar tradisional kini merosot ke kisaran Rp22.000 per kilogram, dari yang sebelumnya sempat bertahan di angka Rp25.000 hingga Rp26.000 per kilogram. Bahkan di beberapa pasar tradisional dan minimarket, telur kini bisa ditebus dengan harga Rp21.500 per kilogram.

Kepala Bidang Pembinaan dan Pengembangan Perdagangan Diskumindag Sragen, R. Widya Budi Mudhita, melalui Pengawas Perdagangan Kunto Widyastuti, mengonfirmasi bahwa penurunan harga ini terjadi sangat cepat dalam beberapa pekan terakhir.

"Harga sebelumnya sekitar Rp25.000 per kilogram, sekarang turun menjadi Rp22.000 per kilogram. Dengan kondisi pasar yang relatif sepi, harga masih berpotensi turun lagi," ucapnya Selasa 7 Juli.

Ditanya perihal anjloknya harga telur karena imbas program MBG libur, Kunto enggan berspekulasi lebih jauh. Menurutnya butuh study lebih lanjut untuk mengetahui penyebab anjloknya harga telur.

"Kalau dari pasar memang daya beli masyarakat yang turun. Hingga saat ini kami belum menemukan indikasi pasti penyebab penurunan harga tersebut," ujar Kunto.

Menanggapi situasi yang terus berulang ini, Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) Jawa Tengah, Parjuni, angkat bicara. Menurutnya, anjloknya harga dipicu oleh pasokan yang sudah melebihi kapasitas pasar (overload). Ia menilai pemerintah masih lemah dalam fokus penanganan industri perunggasan nasional.

"Ini permasalahannya kan bukan permasalahan hari ini, permasalahannya sudah bertahun-tahun dan selalu terulang. Artinya fokus pemerintah pada penanganan perunggasan ini masih lemah," ujar Parjuni, Selasa.

Parjuni menambahkan bahwa pihaknya sudah melakukan koordinasi hingga tingkat pusat, termasuk melakukan pertemuan via Zoom dengan Wakil Menteri dan Direktur Jenderal terkait. Ia juga mengingatkan kembali janji pembentukan tim khusus perunggasan yang sempat dibahas bersama Presiden Joko Widodo pada tahun 2023 lalu, namun mandek hingga masa jabatan presiden usai.

"Kita kemarin sudah Zoom juga dengan Pak Wamen, dengan Pak Dirjen, semuanya sudah kita sampaikan. Bahkan ini kan bukan hanya Solo (raya). Di daerah Blitar dan Tulungagung juga ada aksi yang sama. Ternyata memang belum ada perbaikan," tegasnya. Beliau juga mendesak agar ada kementerian atau tim khusus yang fokus memayungi sektor peternakan agar masalah klasik ini bisa terurai.

Sementara itu, penurunan harga ini disambut gembira oleh pelaku UMKM yang mengandalkan telur sebagai bahan baku utama. Mulyani, salah seorang pelaku UMKM kuliner di Sragen, mengaku ongkos produksinya kini jauh lebih ringan. Meski diuntungkan, ia tetap menaruh simpati pada nasib para peternak.

Dampak ke UMKM Biaya operasional turun, margin keuntungan meningkat.

Sektor Paling Diuntungkan, Industri rumahan pembuatan kue dan roti karena serapan volume telur yang besar setiap harinya.

"Kalau pelaku UMKM tentu senang karena harga telur turun. Yang kasihan justru peternaknya. Sekarang masih ada yang menjual Rp22.000 per kilogram, padahal dulu harga eceran bisa sampai Rp29.000 per kilogram," ungkap Mulyani. MI

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....