MBG Kembali Berjalan, Harga Telur Ayam Peternak Lokal di Sragen Masih Rendah

  • 03 Agt 2026 15:09 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, SRAGEN — Berjalannya kembali program Makan Bergizi Gratis (MBG) usai masa libur sekolah ternyata belum mampu mengangkat harga telur ayam ras di tingkat peternak skala kecil di Kabupaten Sragen. Kondisi surplus pasokan serta gempuran pasokan telur dari luar daerah membuat harga di tingkat peternak lokal tersendat di bawah harga keekonomian.

Berdasarkan pantauan di lapangan, harga telur ayam di pasar ritel/pengecer saat ini berada di kisaran Rp21.000 per kilogram. Namun, nasib lebih memprihatinkan dialami para peternak skala kecil di pedesaan yang harga jualnya tersisa di angka Rp20.000 per kg, bahkan tidak jarang dihargai di bawah angka tersebut (Rp19.000-an/kg).

Pengawas Bibit Ternak Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKPP) Kabupaten Sragen, Agung Bowo Wiratno, membenarkan bahwa pergerakan harga telur di tingkat peternak mandiri masih sangat lemah. Hal ini disebabkan oleh masuknya pasokan besar dari Jawa Timur yang membanjiri pasar lokal.

"Untuk Sragen sendiri sebenarnya peternak lokal mengalami kesulitan di pemasarannya. Pasokan di Sragen kebanyakan sudah diserbu dan diisi dari Ngawi dan wilayah Jawa Timur lainnya," ujar Agung, saat dihina wartawan, Senin 3 Agustus 2026.

Ia menjelaskan, keberadaan program MBG sejatinya menyerap komoditas pangan dalam jumlah besar. Kendati demikian, penyerapan tersebut mayoritas dinikmati oleh peternak bermodal besar yang sudah memiliki jaringan distribusi terintegrasi. Sementara peternak rakyat dengan populasi di bawah 5.000 ekor tidak memiliki akses langsung ke rantai pasok MBG.

"Peternak lokal yang populasinya di bawah 5.000 ekor itu tidak ada jaringan ke sana (MBG). Kalau peternak besar yang punya jaringan luas di Masaran atau wilayah lain mungkin bisa terserap. Kesulitan utama peternak kecil di bawah 5.000 ekor ya pada distribusi dan pemasaran barangnya," kata Agung.

Agung menambahkan, populasi ayam petelur di Kabupaten Sragen terbilang cukup besar, yakni mencapai kisaran satu juta ekor. Dari jumlah tersebut, terdapat sekitar 20 lebih peternak skala kecil yang kini harus menanggung beban operasional akibat keterpurukan harga.

Kondisi ini kian memberatkan lantaran tingginya biaya operasional dan pakan. Pada tahun sebelumnya, pemerintah sempat mengintervensi melalui program jagung subsidi yang diminati peternak. Namun memasuki tahun 2026, daya beli peternak lokal makin tergerus sehingga sulit mengimbangi biaya produksi.

"Banyak peternak kecil yang mengeluhkan kerugian. Pakan mahal dan barang (telur) melimpah sehingga terjadi surplus. Jika peternak besar masih sanggup bertahan karena memiliki rantai pasar tersendiri, peternak kecil sangat bergantung pada pergerakan pasar reguler," jelasnya.

Guna membantu menyerap kelebihan produksi dan menjaga stabilitas harga peternak lokal, pihak dinas mendorong adanya kolaborasi intervensi pasar, seperti penyelenggaraan Pasar Murah bekerja sama dengan organisasi kemasyarakatan maupun sponsor terkait sambil menunggu pemulihan daya serap pasar secara alami. MI

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....