Batik Ciprat, Jadi Media Relaksasi Pemulihan Mental Jadi Karya bernilai Ekonomi

  • 06 Jun 2026 13:34 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Wali Kota Surakarta Respati Ardi mengunjungi sentra produksi Batik Ciprat Mas Danu di Kelurahan Danukusuman, Kecamatan Serengan, Jumat 5 Juni 2026. Kunjungan tersebut menjadi bentuk dukungan Pemerintah Kota Surakarta terhadap upaya pemberdayaan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) melalui industri kreatif berbasis masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, Respati berinteraksi langsung dengan para perajin sekaligus ikut mencoba proses membatik ciprat bersama para pelaku industri yang merupakan penyintas gangguan jiwa. Dengan antusias, ia mengikuti proses pewarnaan kain menggunakan teknik ciprat yang menjadi ciri khas produk Batik Mas Danu.

Respati menyampaikan apresiasi atas semangat dan kreativitas para perajin yang mampu menghasilkan karya bernilai ekonomi sekaligus memiliki dampak sosial yang besar.

“Ini luar biasa. Teman-teman ODGJ membuktikan bahwa mereka mampu berkarya dan menghasilkan produk yang berkualitas. Batik ciprat ini menjadi alternatif yang menarik selain batik tulis maupun batik cap yang selama ini sudah dikenal masyarakat,” kata Respati.



Menurut Respati, keberadaan Batik Ciprat Mas Danu tidak hanya menghasilkan produk kreatif, tetapi juga menjadi sarana pemulihan sosial dan ekonomi bagi para penyintas gangguan jiwa.

Program Batik Ciprat Mas Danu merupakan program pemberdayaan yang digagas di Kelurahan Danukusuman untuk membantu pemulihan sosial dan ekonomi ODGJ.

Program ini melibatkan para penyintas gangguan jiwa yang didampingi relawan dan kader sosial dalam memproduksi batik ciprat dengan teknik pewarnaan manual menggunakan kuas dan cipratan warna sehingga menghasilkan motif yang unik dan berbeda pada setiap karya.

Nama Mas Danu sendiri merupakan singkatan dari Masyarakat Danukusuman Peduli Jiwa Kesehatan Sosial Luhur dan Inovatif.

Melalui pendampingan yang berkelanjutan, para perajin tidak hanya mendapatkan keterampilan membatik, tetapi juga ruang untuk membangun kembali kepercayaan diri, meningkatkan interaksi sosial, serta memperoleh penghasilan dari hasil karya yang mereka produksi.

Salah seorang pembatik, Jayanti Dwi Mulyowati, mengaku aktivitas membatik memberinya kesibukan yang menyenangkan. Perempuan yang telah mengikuti program tersebut selama lebih dari dua bulan itu mengatakan dirinya hanya membutuhkan waktu satu hari untuk mempelajari teknik dasar Batik Ciprat.

"Senang karena ada aktivitas,

Bersama seorang teman, kami aktif memproduksi Batik Ciprat," katanya.

Dalam kurun waktu dua bulan, Jayanti telah menghasilkan hampir 30 lembar kain batik yang sebagian dipasarkan melalui berbagai kegiatan di tingkat kelurahan.(SF)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....