Batik Jadi Identitas Baru Komunitas Tuli Klaten

  • 01 Jun 2026 22:13 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Klaten - Komunitas Tuli Klaten (KTK) mengembangkan identitas visual khas melalui pelatihan Batik Cap Mix Batik Ciprat yang digelar pada Jumat 30 Mei 2026 hingga Sabtu 31 Mei 2026. Kegiatan yang berlangsung di Sekretariat Perkumpulan Penyandang Disabilitas Klaten (PPDK), Barenglor, Klaten, itu menjadi bagian dari program Inovasi Seni Nusantara (PISN) menuju Festival Hari Bahasa Isyarat Internasional 2026.

Pelatihan menghadirkan inovasi perpaduan teknik batik cap dan batik ciprat yang selama ini telah akrab digunakan anggota Komunitas Tuli Klaten. Melalui penggabungan dua teknik tersebut, peserta didorong untuk menghasilkan karya yang tidak hanya bernilai artistik, tetapi juga merepresentasikan identitas komunitas.

Tim pelaksana program, Angga Kusuma Dawami, menyampaikan kegiatan tersebut bertujuan memperkuat identitas sosial dan kapasitas artistik penyandang disabilitas Tuli melalui pengembangan seni berbasis budaya lokal. "Teknik batik cap diperkenalkan untuk memperkaya ragam visual sekaligus membangun identitas kolektif yang lebih kuat melalui motif-motif khas komunitas," ujarnya.

Peserta mendapatkan pelatihan mulai dari pengembangan desain motif, pembuatan cap, proses pengecapan pada kain hingga penggabungannya dengan teknik ciprat. Selama kegiatan berlangsung, komunikasi antara pelatih dan peserta dibantu oleh Juru Bahasa Isyarat.

Selain keterampilan membatik, peserta juga dibekali pemahaman mengenai keselamatan dan kesehatan kerja (K3), terutama dalam penggunaan malam panas dan peralatan pendukung lainnya. Pendampingan dilakukan secara intensif agar seluruh peserta dapat mengikuti proses kreatif dengan aman dan nyaman.

Salah satu capaian penting dari pelatihan tersebut adalah dimulainya proses perancangan motif dan desain cap yang merepresentasikan identitas Komunitas Tuli Klaten. Berbagai ide visual yang berasal dari pengalaman hidup, budaya Tuli, serta semangat inklusivitas dikembangkan secara partisipatif.

Tim pelaksana menjelaskan motif yang tengah dirancang diharapkan menjadi ciri khas yang membedakan karya-karya Komunitas Tuli Klaten dengan produk batik lainnya. "Motif tersebut diharapkan menjadi identitas visual khas yang membedakan karya-karya Komunitas Tuli Klaten," katanya.

Antusiasme peserta terlihat selama pelatihan berlangsung. Banyak peserta mengaku memperoleh pengalaman baru karena untuk pertama kalinya mempelajari dan mempraktikkan teknik batik cap yang dipadukan dengan batik ciprat. Proses tersebut tidak hanya meningkatkan keterampilan membatik, tetapi juga memperkuat rasa percaya diri dan kebanggaan terhadap identitas komunitas.

Hasil pengembangan batik nantinya akan diwujudkan menjadi busana artistik yang digunakan dalam pertunjukan pantomim pada Festival Hari Bahasa Isyarat Internasional 2026. Untuk mendukung hal itu, peserta juga diperkenalkan dengan latihan dasar pantomim sebagai bagian dari integrasi seni rupa, desain busana, dan seni pertunjukan.

Melalui kegiatan ini, Komunitas Tuli Klaten menunjukkan bahwa seni dapat menjadi ruang ekspresi sekaligus sarana pemberdayaan difabel. Program tersebut diharapkan mampu mendorong lahirnya praktik seni yang lebih inklusif dan memperluas apresiasi terhadap karya-karya penyandang disabilitas Tuli di Indonesia. (Ril/Ase)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....