Meniti Sukses lewat Ketelatenan, Kisah Batik Dewi Arum Melaju ke Level Nasional
- 31 Mei 2026 19:06 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID., Surakarta - Ketelatenan dalam merawat warisan tradisi sukses membawa industri batik lokal tumbuh menjadi kekuatan ekonomi yang merambah pasar nasional. Berawal dari keberanian merintis usaha dari nol dengan modal yang sangat terbatas, sebuah rumah produksi batik di Sragen kini bertransformasi menjadi pilar penggerak ekonomi yang menghidupi banyak keluarga di sekitarnya.
Kisah inspiratif tentang konsistensi, seni tinggi, dan ketekunan menjaga roda produksi ini menjadi bukti nyata bagaimana produk budaya mampu naik kelas di tengah dinamika pasar modern. Sosok di balik perkembangan pesat usaha tersebut adalah Retno Wijayanti, seorang perempuan berusia 56 tahun yang tidak lahir dari keluarga pengusaha batik.
Belajar dari bawah sebagai pekerja batik sejak tahun 1993, sebelum akhirnya menerapkan ilmu tersebut untuk membangun usaha mandiri pada tahun 2000. "Saya tidak punya keturunan usaha batik. Tahun 1993 ikut orang, menerapkan ilmu waktu bekerja. Lama-lama berpikir, kalau ikut orang terus kok tidak berkembang, akhirnya mencoba usaha sendiri dengan modal awal tiga setengah juta dari koperasi," ucap Ibu Retno Wijayanti saat berbagi kisah perjalanannya langsung kepada RRI pada 19 Mei 2026.
Suasana di Kampung Batik Desa Kliwonan, Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen sendiri tampak begitu hidup sejak pagi hari. Di salah satu sudut rumah produksi Batik Dewi Arum, para perajin berbincang hangat sambil menyusun motif dan warna untuk desain batik terbaru.
Jemari mereka bergerak lincah menorehkan malam di atas lembaran kain, menghadirkan corak-corak khas yang telah menjadi identitas batik Sragen selama puluhan tahun. Hari itu menjadi momen yang istimewa karena sejumlah tamu hadir melihat langsung proses produksi dan koleksi batik yang dipajang rapi di ruang pameran.

Retno Wijayanti, pemilik Batik Dewi Arum di Desa Kliwonan, Kecamatan Masaran, Sragen. (Foto: RRI/ Dinar)
Pilihan memulai dari batik tulis sejak awal merintis terbukti melahirkan nilai seni tinggi yang tidak tergantikan, di mana setiap goresan canting dikerjakan satu per satu oleh tangan manusia sehingga tidak ada dua lembar kain yang benar-benar serupa. Proses pembuatannya menuntut kesabaran yang luar biasa, mulai dari menggambar pola, mencanting, pewarnaan alami, hingga proses pelorodan yang dilakukan bertahap selama berbulan-bulan.
Keunikan motif klasik Truntum dan Wahyu Temurun yang berpadu dengan sentuhan modern kini menjadi daya tarik utama Batik Dewi Arum. Produk lokal ini sukses menembus pasar nasional dengan rutin menyetorkan hasil produksinya ke Yogyakarta hingga Jakarta.
Di masa-masa awal merintis, tantangan terbesar Retno bukan sekadar masalah produksi, melainkan menjaga keberlangsungan hidup para perajin yang bekerja bersamanya. Ketika pembayaran pesanan dari luar kota belum diterima, keluarga Retno memutar otak dengan mengandalkan hasil dari usaha sampingan pertanian dan warung kelontong demi memastikan upah para pembatik tetap terbayar tepat waktu.
Seiring berkembangnya usaha, kebutuhan modal untuk pembelian bahan baku kain mori dan biaya operasional pun semakin membengkak. Di titik inilah, akses dukungan pembiayaan dari BRI hadir menjadi solusi nyata yang mempermudah permodalan produksi tanpa kendala, sekaligus menjaga keberlangsungan usaha mereka tetap stabil.
Kini, Batik Dewi Arum memadukan dua kekuatan sekaligus: mempertahankan eksklusivitas karya batik tulis sebagai identitas utama, sekaligus mengoptimalkan lini produksi printing untuk memenuhi permintaan pasar dalam jumlah besar dengan harga terjangkau. Meski sempat terdampak pandemi Covid-19 dan menghadapi situasi pasar yang belum sepenuhnya pulih, optimisme Retno tidak pernah luntur.
Ketelatenan usaha ini pun sukses menarik perhatian dari berbagai kalangan. Eni Nur, salah satu warga Sragen, mengekspresikan rasa bangganya terhadap pencapaian produk lokal ini yang berhasil menembus pasar luar kota. "Saya sangat bangga batik Sragen bisa go nasional dan tidak kalah bersaing dengan batik dari kota-kota lain.
Secara pribadi, saya suka beli batik yang mempertahankan corak klasik dengan warna kalem yang teduh, bukan yang mencolok atau warna-warni," ujar Eni Nur saat memberikan tanggapannya.
Bahkan pada kesempatan kunjungan kerja di lokasi yang sama, Menteri UMKM, Maman Abdurrahman yang hadir memantau potensi daerah tampak terpikat dan memilih sendiri salah satu kain batik eksklusif memuji kain batik sido mulyo "Saya ambil yang Mulyo (Motif Sido Mulyo: red), pokoknya kalau saya pakai ini, mulya, " ujarnya.
Dari Kampung Batik Kliwonan, canting masih terus menari di atas kain demi menjaga motif warisan leluhur tetap lestari melintasi zaman. Bagi Retno Wijayanti, batik bukan sekadar komoditas yang diperjualbelikan, melainkan sebuah lembaran kisah tentang keberanian memulai dari keterbatasan, komitmen menjaga kualitas, serta totalitas dalam menghidupi banyak kepala keluarga di sekitarnya. (Dinar Rusydiana)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....