Rawat Situs Bersejarah, Yayasan Pastika-Warga Singopadu Sragen Bersihkan Punden

  • 05 Okt 2026 22:20 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, SRAGEN — Yayasan Pastika Kabupaten Sragen bersama warga Dukuh Banyuning, Desa Singopadu, Kecamatan Sidoharjo, menggelar aksi konservasi lingkungan melalui penanaman pohon keras di kawasan Sendang Banyuning, Minggu 4 Oktober 2026. Kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari legislator DPRD Kabupaten Sragen dan Pemerintah Desa Singopadu.

Aksi pelestarian lingkungan tersebut merupakan bagian dari program rutin bulanan bertajuk "Resik-resik Punden" yang digagas Yayasan Pastika. Dalam pelaksanaannya, program ini berkolaborasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sragen yang turut menyuplai bibit pohon keras.

Rangkaian kegiatan diawali dengan tradisi bancaan bersama sebagai wujud doa keselamatan, yang diikuti oleh warga setempat bersama anggota DPRD Kabupaten Sragen dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Fathurrohman. Usai doa bersama, warga melaksanakan kerja bakti membersihkan saluran air di sekitar sendang, sementara anggota Yayasan Pastika menanam pohon serta merapikan kawasan pelataran sendang.

Dalam aksi konservasi ini, sebanyak tiga jenis pohon penahan air ditanam di lokasi tersebut, yakni tiga batang pohon gayam, lima batang pohon mojo, serta dua batang pohon padmanaba atau tlogosari. Selain itu, warga juga menanam berbagai bibit bunga tradisional seperti mawar, melati, kenanga, dan kantil.

Bendahara Yayasan Pastika Kabupaten Sragen, Bambang Purwanto, menjelaskan bahwa selain penghijauan, pihaknya juga memasang papan informasi untuk mengedukasi masyarakat mengenai sejarah kawasan tersebut.

"Kami juga memasang papan nama Sendang Banyuning yang dilengkapi dengan cerita sejarah dari sesepuh dukuh setempat. Papan nama ini terbuat dari MMT berukuran 3 meter kali 1,8 meter," ujar Bambang.

Berdasarkan penuturan sesepuh Dukuh Banyuning, Sutrisno (68), penamaan Sendang Banyuning tidak terlepas dari kisah perjuangan masa lalu melawan penjajahan Belanda. Konon, Pangeran Mangkubumi bersama Kiai Srenggi pernah singgah dan berteduh di bawah pohon gayam rindang yang dikeramatkan di wilayah Sukowati tersebut.

Di tempat peristirahatan itu pula, atas sabda Pangeran Mangkubumi, muncul sumber mata air yang sangat jernih. Dalam bahasa Jawa, air yang jernih disebut banyune bening, yang kemudian melatarbelakangi penamaan Dukuh Banyuning hingga saat ini.

Sementara itu, legislator DPRD Sragen, Fathurrohman, memberikan apresiasi tinggi kepada Yayasan Pastika dan masyarakat yang konsisten merawat serta nguri-uri (melestarikan) warisan leluhur. Menurutnya, di tengah era digitalisasi saat ini, kepedulian terhadap pelestarian budaya lokal dan situs bersejarah seperti punden, petilasan, maupun sendang sangat penting sebagai sarana edukasi generasi muda.

"Sragen memiliki banyak sekali tempat bersejarah yang patut mendapatkan perhatian dari Pemkab Sragen, salah satunya Sendang Manten di Dukuh Banyuning, Desa Singopadu ini. Dengan melestarikan sendang, semoga bisa membawa kemaslahatan dan keberkahan bagi kita sebagai generasi penerusnya," kata Fathurrohman. MI

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....