Menelusuri Jejak Sejarah Stasiun Solo Balapan di Kota Surakarta
- 30 Sep 2026 05:28 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta – Stasiun Solo Balapan (SLO) merupakan salah satu pusat mobilitas penting di Kota Surakarta, melayani perjalanan masyarakat sekaligus menjadi bagian dari denyut aktivitas transportasi dan perekonomian kota. Lokasi stasiun ini cukup dekat dengan pusat Kota Surakarta, tepatnya di Jalan Wolter Monginsidi Nomor 112, Kelurahan Kestalan, Kecamatan Banjarsari.
Letaknya yang strategis memudahkan masyarakat untuk mengakses berbagai kawasan penting di Kota Surakarta. Stasiun Solo Balapan merupakan stasiun kereta api kelas besar tipe A yang dikenal sebagai salah satu stasiun tertua dan terbesar di Kota Solo.
Stasiun ini mulai beroperasi pada 1870, bertepatan dengan peresmian jalur kereta api ruas Kedungjati–Gundih–Solo. Melansir dari www.kai.id, Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) merupakan perusahaan kereta api pertama di Hindia Belanda yang membangun stasiun ini.
Pada awalnya, lahan yang kini menjadi lokasi Stasiun Solo Balapan merupakan bagian dari Alun-Alun Utara milik Keraton Mangkunegaran. Pada masa pemerintahan Mangkunegara IV, kawasan tersebut kemudian dimanfaatkan sebagai lapangan pacuan kuda.
Tempat tersebut kemudian dinilai memiliki lokasi strategis dan dinilai sesuai untuk pembangunan sebuah stasiun kereta api. Hal tersebut dikarenakan jalur rel bisa langsung mengarah ke Semarang (ibukota provinsi).
Berdasarkan sejarah tersebut, stasiun ini kemudian dikenal dengan nama Solo Balapan, Ini merujuk pada fungsi kawasan tersebut sebagai arena perlombaan atau balap kuda pada masa lalu.
Pada tahun 1913, perkembangan jaringan perkeretaapian di Solo semakin terlihat dengan dibangunnya Stasiun Purwosari dan Stasiun Jebres. Pada periode yang sama, muncul rencana untuk membangun sebuah stasiun besar yang dapat digunakan secara bersama oleh berbagai layanan kereta api.
Stasiun tersebut direncanakan berada di antara Stasiun Solo Balapan dan Stasiun Purwosari. Namun, rencana pembangunan tersebut pada akhirnya tidak dapat direalisasikan.
Perkembangan terus berjalan, 1 Januari 1927, Stasiun Solo Balapan mengalami renovasi besar-besaran. Dalam proses tersebut, dibangun sebuah bangunan di sisi selatan stasiun yang mengadopsi unsur arsitektur Jawa, salah satunya ditandai dengan penggunaan atap tajuk tiga.
Pembangunan ini berlangsung seiring dengan pengembangan jalur ganda milik Staatsspoorwegen yang dibangun sejajar dengan jalur kereta api NIS rute Solo–Yogyakarta. Bangunan stasiun di sisi selatan tersebut dirancang oleh Herman Thomas Karsten, seorang arsitek ternama asal Belanda yang dikenal dengan gaya arsitektur Indisch.
Saat ini, Stasiun Solo Balapan memiliki peran menjadi stasiun utama di Kota Solo dibawah naungan Daerah Operasi (DAOP) VI Yogyakarta. Tawaran rute yang ditawarkan juga semakin lengkap, meliputi Kereta Api Jarak Jauh (KAJJ), KRL Commuter Line, serta kereta bandara. (Husni Abrar / Rifqi Nadhif)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....